Google Adsense

12 Ribu Mata Katarak akan Dioperasi Tahun Ini

Rabu, 24 Februari 2016

SEJAK pagi hari di lantai 1 Gedung Kirana Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusomo (RSUPNCM) sudah dipadati pasien yang akan menjalani operasi katarak. Sebagian besar dari mereka berusia di atas 40 tahun.

Pukul 09.00 WIB, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek tiba dan langsung meninjau persiapan operasi bersama Direktur Utama PT Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat. Tidak lama kemudian Nila yang juga menjadi ketua umum Persatuan Dokter Ahli Mata Indonesia (Perdami) bersama Asisten Teritorial TNI Angkatan Darat Mayor Jenderal Kustanto Widiatmoko, dan Direktur RSUPN Cipto Mangunkusumo dr CH Soejono dan tamu undangan lainnya berkumpul di ruang auditorium di lantai 6 untuk menyaksikan live surgery pasien ke45.001 yang ditayangkan lewat dua layar televisi besar.

Dalam operasi yang cuma berlangsung sekitar 30 menit itu, tampak pisau bedah secara perlahan mengambil lapisan putih yang menutupi kornea pasien. Spesialis mata dr Johan menjelaskan secara singkat jalannya operasi. “Ya sudah selesai. Operasi cuma setengah jam,” ujar Johan.

Operasi katarak terhadap pasien ke-45.001, kemarin menandai dimulainya bakti sosial perusahaan jamu dan herbal itu di tahun ke-6 ini. Pada 2016, menurut Irwan, perusahaannya kembali bekerja sama dengan Perdami dan TNI untuk mengoperasi 12.000 mata.

“Dengan TNI kita akan mengoperasi 3000 mata dan kerja sama dengan RSUPN Cipto Mangunkusumo 500 mata. Jumlah tersebut merupakan bagian dari 12.000 mata yang telah disepakati bersama Perdami,” jelas Irwan, seusai melakukan nota kesepahaman (MOU) dengan Perdami dan TNI.

Lebih lanjut, Irwan mengatakan baksos operasi katarak berikutnya akan dilakukan ke beberapa daerah lain, termasuk di Papua.

“Dengan semakin luasnya dukungan masyarakat terhadap upaya pemberantasan buta katarak di Indonesia, akan berkurang juga jumlah penderitanya. Dan akhirnya akan meningkatkan produktivitas masyarakat,” tambah Irwan.

Di sisi lain, Menkes Nila F Moeloek mengatakan jumlah penderita katarak di tiap negara 1% saja dari populasi sudah menimbulkan masalah sosial. Untuk itu, lanjutnya, perlu kerja sama antara akademisi, pebisnis, pemerntah, dan TNI/Polri dalam mengatasi masalah kebutaan akibat katarak di Tanah Air.

“Diharapkan, pasien yang sudah dioperasi bisa produktif lagi,” ujarnya. (Ros/H-3) Media Indonesia, 17 Februari 2016, Halaman 17