Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2015

Bersama Jalani Mil Terakhir untuk Sistem Peringatan Dini

Sedekade Tsunami Samudra Hindia
HARI ini 10 tahun lalu, dunia mengalami salah satu bencana alam paling mematikan yang pernah tercatat.Gempa berkekuatan 9,1 skala Richter di lepas pantai barat Sumatra, Indonesia, memicu tsunami besar yang secara langsung memberikan dampak di 14 negara di Asia dan Afrika.Dampak dari pergeseran tektonik dan lempengan menimbulkan dampak berupa ombak yang mengakibatkan sekitar 230 ribu orang tewas dan penderitaan yang besar bagi umat manusia.

Sepuluh tahun kemudian, kita bersama-sama sebagai masyarakat mengenang para korban yang hilang akibat amukan alam dan memahami penderitaan mereka akibat bencana alam yang telah melanda wilayah kita. Bulan ini, beberapa negara yang terkena dampak di wilayah ini akan menjadi tuan rumah upacara peringatan tsunami Samudra Hindia.

Nusantara Rentan Tsunami

TSUNAMI yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004 seakan mengingatkan bahwa kepulauan di Nusantara ini sangat rentan dilanda gempa yang berpotensi menimbulkan gulungan ombak raksasa. Hal itu dikemukakan oleh pakar seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro kepada Media Indonesia, kemarin.

Senin, 19 Januari 2015

Sektor maritim Indonesia Butuh Adaptasi dan mitigasi

INDONESIA menggulirkan isu kemaritiman di Konferensi Internasional Perubahan Iklim (UNFCCC) di Lima, Peru, awal Desember. Isu tersebut dielaborasi dalam lima sektor penting penanggulangan perubahan iklim, yakni mitigasi, adaptasi, alih teknologi, penguatan kapasitas, dan pendanaan global.

“Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung terhadap kemaritiman. Oleh karena itu, dibutuhkan aksi adaptasi dan mitigasi di sektor tersebut,“ kata Ketua Delegasi Indonesia Rachmat Witoelar.

Perspektif tersebut selaras dengan konsentrasi kebijakan pemerintah saat ini, yakni pengembangan sektor kemaritiman. Sejumlah skenario pun disiapkan untuk menekan penyebab dan dampak perubahan iklim di sektor tersebut. Satu di antaranya menjaga kelestarian terumbu karang dari ancaman mobilisasi dan pembangunan infrastruktur.

Senin, 08 Desember 2014

Kelanjutan Riset Gunung Padang demi Peradaban

Ada perbedaan pandangan antara peneliti satu dan peneliti lainnya mengenai Situs Gunung Padang. Ada yang menganggap Situs Gunung Padang sebagai punden berundak dan ada juga yang menganggap sebagai piramida.

PEMERINTAH tetap melanjutkan penelitian peninggalan megalitikum Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti Kecamatan Cempaka, Cianjur, Jawa Barat, untuk mengetahui peradaban dan budaya manusia pada masa lampau.

Jumat, 28 November 2014

Luasan Hutan di Jawa Tinggal 3 Juta Hektare

Kondisi hutan konservasi di Pulau Jawa sudah memprihatinkan karena di bagian kanan dan kiri jalan banyak ditumbuhi hutan industri. Karena itu, perlu moratorium hutan produksi, khususnya di Pulau Jawa, untuk meningkatkan pembuatan hutan jangka panjang.

Kabid Pusat Informasi Lingkungan Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa Soegeng Wachyono mengatakan sejak 1880 Jawa memiliki luas hutan 12 juta hektare. Saat ini, luasnya tinggal 3 juta ha.

Selasa, 25 November 2014

Perubahan Iklim Picu Kekeringan

Perubahan iklim juga berdampak pada kenaikan permukaan air laut yang berujung pada hilangnya desa di daerah pesisir. ASOSIASI Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan (APIK) Indonesia menyatakan saat ini perubahan iklim sudah banyak menimbulkan masalah krusial yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan masyarakat.

‘’Contohnya masalah cuaca yang sekarang ini sulit diprediksi berkaitan dengan musim tanam dan kekeringan,’’ ungkap Ketua APIK Indonesia Satyawan Pudyatmoko di selasela pengumuman resmi terbentuknya APIK Indonesia bersamaan dengan seminar bertema Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menuju tata kelola hutan dan lahan lestari, di Jakarta, kemarin.

Rabu, 05 November 2014

Percepat Layanan Kurangi Konflik Agraria

KONFLIK pertanahan (agraria) yang kerap memicu konflik sosial menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintahan Jokowi-JK. Untuk menyelesaikan hal itu, Kementerian Agraria dan Tata Ruang menerapkan kebijakan layanan komprehensif.

“Baru 40 persen tanah di Indonesia besertifikat, jadi potensi konfl ik sangat banyak. Makanya kami (harus) menghentikan semua proses yang be Rp otensi menyusahkan (menimbulkan konflik),” ujar Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Ferry M Baldan saat penyerahan sertifi kat tanah kepada warga di Kantor Pertanahan Jakarta Barat, kemarin.

Rabu, 29 Oktober 2014

Pejabat Harus Keruk Selokan

Hujan mulai mengguyur Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang. Dalam menghadapi ancaman banjir, Jakarta mulai melakukan berbagai antisipasi. BENCANA banjir yang kerap melanda Jakarta bukan hanya karena curah hujan tinggi atau air kiriman.Drainase yang tidak optimal juga bisa menimbulkan banjir meski hujan hanya sebentar karena air tidak tertampung dan menggenangi sekitarnya.

Untuk mengantisipasi bencana itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menginstruksikan kepada pejabat di lima wilayah kota madya dari wali kota sampai camat dan lurah agar turun tangan membersihkan selokan di lingkungan permukiman.

Menurut Ahok, pembersihan selokan atau saluran air harus dilakukan sebelum musim hujan tiba yang biasanya mulai terjadi pada November dan Desember.

Selasa, 28 Oktober 2014

Limbah Rumah Sakit Berbuah Pupuk

Di RSUD Wonosari, Gunung Kidul, limbah domestik yang berupa tinja dimanfaatkan menjadi pupuk dan biogas. BERADA di kawasan karst yang dikenal sulit mendapatkan air bersih, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, sadar akan pentingnya pengolahan limbah. Membuang limbah langsung tanpa pengolahan bisa berarti mencelakai diri sendiri karena terbatasnya pasokan air bersih.

Maka RSUD Wonosari pun membuat tiga jenis pengolahan limbah di RSUD Wonosari, mulai pengolahan limbah domestik (tinja), pengolahan air menjadi air minum, dan pengolahan air limbah rumah sakit. Kepada Media Indonesia, Kamis (16/10), Sanitarian RSUD Wonosari, Priyatno Budiharto, menjelaskan dua dari sistem pengolahan limbah itu merupakan bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Riset Pemerintah Jerman. Sementara itu, pengolahan limbah terakhir dibuat rumah sakit.