Google Adsense

Perubahan Iklim Picu Kekeringan

Selasa, 25 November 2014

Perubahan iklim juga berdampak pada kenaikan permukaan air laut yang berujung pada hilangnya desa di daerah pesisir. ASOSIASI Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan (APIK) Indonesia menyatakan saat ini perubahan iklim sudah banyak menimbulkan masalah krusial yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan masyarakat.

‘’Contohnya masalah cuaca yang sekarang ini sulit diprediksi berkaitan dengan musim tanam dan kekeringan,’’ ungkap Ketua APIK Indonesia Satyawan Pudyatmoko di selasela pengumuman resmi terbentuknya APIK Indonesia bersamaan dengan seminar bertema Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menuju tata kelola hutan dan lahan lestari, di Jakarta, kemarin.

Kesulitan memprediksi cuaca tersebut amat berpengaruh pada masalah pemenuhan pangan masyarakat. Cuaca yang berubah-ubah akan memengaruhi musim tanam yang kemudian berdampak pada sulitnya kebutuhan pangan di suatu daerah.

‘’Misalnya, ada sejuta hektare tanaman padi untuk bahan makan, dan setiap hektarenya menghasilkan 10 kilogram beras. Lantaran ada perubahan iklim seperti munculnya fuso dan hama, hasil panen padi tersebut kemudian menurun, sehingga dampaknya di beberapa dae rah sudah ada yang kesulitan bahan pangan,’’ jelas dia.

Lebih lanjut, Satyawan mengatakan, juga ada kaitan antara perubahan iklim dan penyebaran penyakit seperti penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi, polusi udara, dan penyakit infeksi. Kemudian, masalah yang krusial juga ialah naiknya permukaan air laut. Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa kenaikan permukaan air laut berdampak pada hilangnya desa di pesisir.

Satyawan menambahkan ada juga dampak lain dari perubahan iklim yaitu meningkatnya bencana alam yang berkaitan dengan hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor. Terbukti, sampai saat ini bencana alam hidrometeorologis sudah mencapai 90 persen.

‘’Yang dikhawatirkan pada tahun-tahun mendatang, ben cana alam hidrometeorologis ini akan lebih meningkat lagi,’’ paparnya.

Menurut Satyawan, masalahmasalah yang disebabkan oleh dampak perubahan iklim itu tidak dapat diselesaikan secara parsial atau sebagian saja. ‘’Dampak perubahan iklim yang saat ini sudah sangat dirasakan masyarakat dunia termasuk Indonesia butuh perhatian serta penanganan yang serius,’’ kata dia.

Lantaran itu, APIK Indonesia yang terdiri atas para ahli, akademisi, dan aktivis akan mengumpulkan data relevan tentang perubahan iklim yang dapat menjadi pertimbangan bagi kebijakan pemerintah.

‘’Harapan kami, masukan ilmiah kami mampu memperkuat posisi Indonesia di tingkat nasional dan internasional terkait dengan
kebijakan perubahan iklim dan kehutanan serta kebijakan pengelolaan sumber daya alam,'' pungkas Satyawan.Upaya adaptasi

Sementara itu, Kepala Badan Pelaksana (BP) Reducing Emissions from Deforestation and Forest and Peatland Degradation (REDD+) Heru Prasetyo menyatakan untuk mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat, upaya atau metode adaptasi terkait perubahan iklim harus terus dikembangkan.

Di antaranya, untuk mengatasi peningkatan muka air laut dilakukan dengan menanam hutan bakau (mangrove) di sekitar pesisir pantai. `'Namun, juga harus diperhatikan adaptasi teknik penanaman mangrove agar punya ketahanan lebih tinggi terhadap perubahan iklim,'' ujar Heru.

Kemudian, untuk mengatasi kekeringan dan ketahanan pangan dari dampak perubahan iklim, menurut Heru, perlu dilakukan adaptasi seperti mencari varian padi yang tahan banjir dan suhu tinggi. Untuk itu, Heru meminta pemerintah daerah turut serta memberikan kontribusi dalam melakukan upaya adaptasi atas perubahan iklim di daerah masing-masing. (Ant/H-2) Media Indonesia, 19/11/2014, halaman 15