Google Adsense

Belum Digaji, Terpaksa Utang

Minggu, 09 November 2014

Di balik hiruk pikuk berbagai acara besar yang digelar di Taman Monas, ternyata pekerja yang bertugas membersihkan kawasan itu belum digaji sejak Agustus.
Putri Anisa Yuliani
Masa transisi status pengelola Monumen Nasional (Monas) dari Unit Pengelola Teknis (UPT) Monas menjadi Kantor Pengelola Monas berdampak pada belum cairnya gaji sejumlah pekerja harian lepas sejak Agustus lalu.

Mereka kini mengeluh karena kehabisan uang sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apalagi, pekerjaan sebagai tenaga lepas di tempat itu merupakan satu-satunya mata pencaharian mereka.

“Sejak gaji tak turun, saya berutang ke sana-sini untuk makan. Masih boleh ngutang saja sudah bagus,” kata Sobri, 33, salah seorang pekerja harian lepas Monas, pekan lalu. Hal yang sama diungkapkan pekerja lain, Badar, 39, yang mengaku kesulitan ekonomi akibat belum cairnya gaji mereka mulai merembet ke masalah rumah tangga. Ia dan rekan-rekannya kerap bertengkar dengan istri yang menuntut biaya hidup sehari-hari agar dapur tetap mengepul.

“Mungkin, bagi orang lain, gaji kami kecil, tapi buat kami gaji terlambat turun beberapa hari saja sudah membikin kami susah. Ini malah sudah lebih dua bulan (belum cair). Banyak di antara kami yang hampir cerai karena tidak ada uang. Tidak ada uang buat bayar listrik dan lainnya,” kata Badar.

Badar dan Sobri yang baru kekerja di Monas selama enam bulan menyatakan hampir setiap hari mereka menanyakan soal gaji yang belum kunjung turun kepada mandor. Namun, para mandor hanya bisa menyampaikan itu kepada atasan, tanpa bisa mempercepat pencairan.

Keduanya mengaku tak tahu-menahu soal penyebab gaji mereka tidak kunjung dicairkan. Para pekerja yang sehari-hari bertugas menyapu Taman Monas tersebut hanya berharap gaji sebesar Rp2,4 juta per bulan segera dibayarkan. Mereka juga menyatakan tidak akan berunjuk rasa atau protes dalam bentuk mogok kerja terkait hal itu karena khawatir dipecat.

“Kami hanya minta secepatnya dibayar. Kita manusia, dan bukan robot. Masak su dah kerja susah payah tidak dihargai,” ujar Sobri. Monas Rini Hariyani. Menurutnya, itu dilakukan untuk mengikat para pekerja dalam perjanjian kontrak dengan manajemen baru. “Soal gaji (yang belum dibayarkan kepada pekerja), saya sudah mohon kepada Sekda (Sekretaris Daerah Provinsi DKI Saefullah) untuk segera diberikan. Kami juga tidak enak hati karena mereka (pekerja) sudah bekerja keras. Apalagi di Monas banyak event besar yang membuat mereka harus bekerja lembur terus-menerus, tapi gajinya belum juga turun,” ujar Rini.

Terkait dengan belum dibayarnya gaji pekerja, anggota DPRD DKI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)) Selamat Nurdin mengatakan gaji pegawai masuk ke anggaran rutin yang seharusnya dapat diperkirakan, bahkan sebelum UPT Monas diubah menjadi Kantor Pengelola Monas. Oleh karena itu, masalah tersebut seharusnya tidak terjadi. “Kecuali kurang koordinasi sebelum masa penggabungan dan transisi manajemen antara UPT Monas dan pertamanannya,” ujarnya. (J-3) Media Indonesia, 6/11/2014, halaman 9