Google Adsense

Kerugian Garuda Indonesia makin Bengkak

Senin, 17 November 2014

PT Garuda Indonesia Tbk mencatat kerugian komprehensif Rp2,51 triliun (US$206,4 juta) hingga kuartal III 2014. Nilai kerugian badan usaha milik negara (BUMN) tersebut terus membengkak sejak 2012. Pada semester I 2012, kerugian Garuda Indonesia sempat menyusut tajam ketimbang tahun sebelumnya menjadi sekitar Rp98 miliar. Kini, nilai kerugian maskapai pelat merah itu naik kurang lebih dua setengah kali.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menjelaskan pertumbuhan ekonomi global yang melambat turut menekan kinerja Garuda Indo nesia. Permintaan untuk ruterute internasional terus menyusut sehingga persaingan pasar, khususnya di Asia Pasifi k semakin kompetitif.

“Selain itu, faktor depresiasi rupiah, serta masih tingginya harga bahan bakar ikut menekan profit mengingat biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar, yaitu mencapai 40%,” ujar Emirsyah dalam siaran pers di Jakarta, kemarin.

Lambatnya pengembangan infrastruktur transportasi uda ra yang berdampak pada inefi siensi operasional penerbangan turut memperburuk. Pada September lalu, Men teri BUMN yang ketika itu masih dijabat Dahlan Iskan mengultimatum manajemen Garuda Indonesia agar menekan kerugian hingga di bawah Rp1 triliun sampai dengan akhir 2014. INACA Annual General Meeting di Jakarta, kemarin.

Garuda Indonesia dan Citilink yang sudah lebih dahulu menerapkan penggabungan pungutan PJP2U dalam harga tiket, per 1 Oktober lalu memutuskan untuk memisahkan keduanya. Emirsyah menyatakan bila aturan terbit, Garuda Indonesia akan memasukkan kembali pungutan PJP2U ke harga tiket.

Direktur Umum PT Lion Mentari Airlines Edward Sirait menambahkan operator bandara dan maskapai harus menyamakan persepsi tentang penggabungan itu, agar tiap pihak tidak dirugikan. (Bow/E-1) Media Indonesia, 14/11/2014, halaman 19