Google Adsense

IMAM NAHRAWI Kembalikan Kejayaan Olahraga Indonesia

Sabtu, 15 November 2014

Sejak 2011 olahraga di Indonesia mengalami penurunan. Di tangannya, Indonesia diharapkan kembali berjaya di kancah dunia.
BUKAN perkara mudah mengurusi olahraga Indonesia. Setelah menjadi juara umum SEA Games 2011 Jakarta-Palembang, prestasi olahraga Indonesia malah menunjukkan gejala penurunan. Itu dimulai dari hilangnya tradisi emas di Olimpiade London 2012 hingga tidak terpenuhinya target di SEA Games 2013 Myanmar dan ASIAN Games 2014 Incheon, Korea Selatan.

Tugas berat mengembalikan kejayaan olahraga Indonesia kini berada di pundak mantan Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Imam Nahrawi yang ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi menteri pemuda dan olahraga dalam Kabinet Kerja pada 26 Oktober.

Pria kelahiran Bangkalan, Madura, Jawa Timur, 8 Juli 1973 itu menyadari sepenuhnya, tugas sebagai menpora tidak mudah. Terlebih saat berkecimpung di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sejak 2004, ia tidak pernah ditugasi partainya untuk berada di Komisi yang mengurusi masalah olahraga.

“Tugas berat ialah mengurus dan memajukan olahraga. Saya mohon doa restu dari seluruh pihak semoga saya bisa menjalankan amanah yang diberikan oleh Presiden ini dengan baik dan selalu diberikan kekuatan untuk menjalankan tugas sebagai menpora,“ kata penggemar olahraga bulu tangkis dan tenis meja itu di Jakarta, pekan lalu.

Di awal kepemimpinannya di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, ayah tujuh anak itu mengungkapkan akan lebih banyak mendengar persoalan yang membelit olahraga Indonesia dari berbagai pihak yang berkepentingan untuk mencari solusi dari masalah tersebut.

Hal itu ia kombinasikan dengan turun ke lapangan langsung. Model blusukan itu ia lakukan dengan langsung menyambangi tempat latihan para atlet. Saat ini sudah lima cabang olahraga ia kunjungi, yaitu atletik, tenis meja, anggar, squash, dan bulu tangkis. “Selain melihat bagaimana pembinaan yang dilakukan, kami juga melihat bagaimana sarana dan prasarana yang ada dalam tempat latihan tersebut. Nantinya secara bertahap, saya akan mencoba untuk mendatangi seluruh induk cabang olahraga untuk melihat secara langsung metode pembinaan yang dilakukan,“ ujar suami Shohibah Rohmah tersebut.

Yang disambangi tidak hanya induk cabang olahraga, tapi juga sekolah olahraga nasional di Ragunan, Jakarta Selatan. Sekolah Ragunan menampung lebih dari 500 atlet muda binaan Kemenpora, atlet binaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan titipan sejumlah induk olahraga.KOI vs KONI Tugas berat Imam sebagai menpora bukan semata masalah prestasi. Ia harus juga mengatasi `perang dingin' di antara dua lembaga induk olahraga Indonesia, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Menpora periode sebelumnya, Roy Suryo, bahkan punya niat untuk kembali menyatukan organisasi yang terpisah akibat implementasi Undang-Undang (UU) Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) itu.

Terkait dengan masalah itu, Imam menegaskan akan berdiri sesuai UU. Ia tidak mau terseret ke dalam pusaran konflik kedua lembaga itu.Meski begitu, upaya persuasif melalui komunikasi dengan kedua lembaga itu tetap dilakukan demi kemajuan olahraga Indonesia.

“Kemenpora tidak boleh lepas dari landasan hukum. Sekarang sudah ada UU yang mengatur tugas dan wewenang masing-masing, tinggal dibutuhkan saling pengertian saja di antara keduanya dengan niat yang baik sehingga olahraga kita bisa berprestasi lagi,“ ucap Imam.Pimpinan nasional Tugas Imam tidak semata di bidang olahraga, tapi juga masalah kepemudaan. Dalam kurun waktu lima tahun, Imam berencana melakukan penyegaran dalam Organisasi Kepemudaan Pancasila (OKP). Penyegaran yang dilakukan lebih pada ideologi, dan bukan individu. Hal itu dilakukan agar OKP memiliki peran yang lebih besar dalam pembangunan Indonesia.

Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur itu menambahkan, apabila bisa, OKP dimasukkan ke sistem perundang-undangan di Indonesia. Ia akan mendorong adanya penganggaran bagi OKP tersebut.

“Tentu setiap OKP punya visi dan misi masing-masing, tapi kalau orientasinya ialah melatih para calon pemimpin bangsa, tentu akan bagus jadinya. OKP akan kita dorong dan sokong untuk mendapatkan peran yang lebih luas. Kalau bisa masuk UU, kita akan dorong lewat anggaran,“ kata pria yang pernah memimpin DKN Garda Bangsa itu.

Dengan semua rencana itu, Imam berharap bisa menuntaskannya semua dalam waktu lima tahun, tidak semata masalah olahraga, tapi juga pemuda. Semoga dalam kurun waktu itu, semua masalah bisa diselesaikan dan Indonesia bisa mencapai kejayaannya kembali. (M-5) Media Indonesia, 11/11/2014, halaman 25