Google Adsense

RACHMAT GOBEL Amankan Pasar Domestik dan Menggenjot Ekspor

Kamis, 13 November 2014

Selaku menteri baru, ia ditugasi mengurangi impor dan meningkatkan ekspor. VIDEO testimoni tentang Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menutup rangkaian prosesi serah terima jabatan yang berlangsung di Jakarta, Senin (27/10) malam. Lutfi secara resmi menyerahkan posisi pemimpin tertinggi di Kementerian Perdagangan kepada Rachmat Gobel.

Saat memberi sambutan, Lutfi tampak luwes dan membumbuinya dengan guyonan. Ia berpesan, mendag harus menjadi wasit yang baik. Seusai memberi sambutan, tiba giliran mendag yang baru memberikan sambutan. Tampak sekilas raut wajahnya tegang, dengan posisi sempurna, mengumpulkan energi, secara perlahan kalimat demi kalimat terlontarkan dari mulutnya.

“Pada hari ini saya bersama Pak Lutfi melakukan serah terima tanggung jawab di Departemen Perdagangan,“ ujar Gobel. Namun, ia buru-buru meralatnya. “Kementerian Perdagangan,“ katanya membenarkan.

“Enggak apa-apalah baru-baru salah mulu, agak grogi ini,“ ucapnya, disambut tawa pengunjung. Dalam tempo yang cepat, pria kelahiran Jakarta, 3 September 1962 itu mulai menguasai panggung. Ia mengungkapkan amanat dari Presiden Joko Widodo akan kepentingan rakyat harus dipikirkan.

Penjabarannya melalui pengamanan pasar domestik dengan semangat mengurangi produk impor. Apalagi Indonesia bersiap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. “Tentu ini bukanlah pekerjaan yang gampang,“ katanya.

Tugas pokok kedua ialah meningkatkan ekspor. Sebagaimana diketahui, Kemendag mengoreksi ke bawah target ekspor di 2014 dari US$190 miliar menjadi US$184,3 miliar.

Bahkan, Gobel menetapkan target yang bombastis. Ekspor Indonesia bisa meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun mendatang. Caranya mendorong industrialisasi dalam negeri melalui penciptaan produk-produk bernilai tambah. Itu ditambah pemetaan daya saing dan wilayah potensial untuk ekspansi ekspor.

Jadi, harus tercipta sinergi yang apik antarkementerian, yakni Kementerian Perindustrian, Ke menterian Pertanian, dan Ke menterian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM)). Di samping itu, ada sinergi antara Asosiasi Pengusaha In donesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Dua hal itu, tegas Gobel, dikerjakan dalam waktu dekat. Di sisi lain, Indonesia menghadapi pertemuan APEC, G-20, dan MEA 2015.

“Ini merupakan sesuatu pekerjaan yang cukup besar,“ tuturnya. Terkait peningkatan ekspor, Rachmat berencana memaksimalkannya dengan memberdayakan peranan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri. Saat ini ada 19 ITPC di dunia yang bertugas mempromosi kan ekspor, memfasilitasi pertemuan bisnis, studi pasar, dan pameran dagang tetap.

“Kita akan melakukan koordinasi dengan mereka dan ITPC pasti akan diberdayakan lebih besar lagi,“ ujar Rachmat.

Ia juga mengungkapkan telah mene mui Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi yang juga telah mem berikan arahan agar para duta besar Indonesia mempelajari tiap-tiap negara tempat mereka bertugas.

“Saya sudah berbicara dengan Menlu, bahkan beliau akan meminta para duta besar untuk mempelajari pasar masingmasing dan (hasilnya) akan dikomunikasikan dengan Kementerian Perdagangan,“ ujar Rachmat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, secara kumulatif, kinerja ekspor Indonesia untuk periode Januari-Agustus 2014 mencapai US$117,42 miliar atau menurun 1,52% jika dibandingkan dengan periode yang sama 2013.

Impor, untuk periode yang sama, ter catat mencapai US$118,83 miliar atau mengalami penurunan sebesar 4,82% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2013. Defisit neraca perdagangan Indonesia Januari-Agustus 2014 mencapai US$1,41 miliar kendati neraca perdagangan nonmigas mengantongi surplus sebesar US$7,18 miliar, tetapi harus tertekan dengan defisit neraca perdagangan migas sebesar US$8,59 miliar.

Harga dan pangan Gobel mengungkapkan tugasnya yang paling penting ia lakukan dalam waktu dekat ialah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Apalagi dalam waktu dekat akan ada perayaan Natal dan Tahun Baru. Itu ditambah adanya wacana penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Semua tugas itu menjadi hal yang baru bagi Gobel. Selama ini ia lebih banyak berurusan dengan industri elektronika. Beberapa tahun setelah menamatkan pendidikan di Chuo University, Tokyo, Jepang, ia menempati posisi asisten presiden direktur di PT National Gobel (sekarang PT Panasonic Manufacturing Indonesia). Sebelum mengemban tugas kenegaraan, ia juga menjabat Komisaris Utama PT Panasonic Gobel Indonesia.

“Sekarang bulan ke-10, nanti bulan 11 dan bulan 12 kita akan menghadapi Natal dan Tahun Baru. Jadi, bagaimana menjaga stabilitas pangan,“ tuturnya.

Lebih jauh, terkait dengan ketahanan pangan, Gobel mempunyai visi besar, yakni menumbuhkan industri pangan. Idenya berangkat dari produk pertanian yang pascapanen nilai jualnya justru anjlok. Karena itu, perlu sinergi yang apik di antara pemangku kepentingan untuk membangun industri pengolahan. Dengan begitu, produk bisa lebih tahan lama dan mempunyai nilai tambah.

Gobel yang tidak sreg dipanggil pak menteri mengajak seluruh jajaran di Kemendag untuk bekerja keras. Efisiensi ialah kuncinya sebab lima tahun bukanlah waktu yang panjang untuk mengimplementasikan visi-misi Presiden Jokowi.

Namun, bukan berarti harus bekerja 28 jam sehari. “Kalau kata Presiden, ini Kabinet Kerja. Jadi, kerja, kerja, kerja itu artinya bicaranya sedikit kerjanya banyak,“ pungkasnya. (M-5) Media Indonesia, 10/11/2014, halaman 24