Google Adsense

Sektor maritim Indonesia Butuh Adaptasi dan mitigasi

Senin, 19 Januari 2015

INDONESIA menggulirkan isu kemaritiman di Konferensi Internasional Perubahan Iklim (UNFCCC) di Lima, Peru, awal Desember. Isu tersebut dielaborasi dalam lima sektor penting penanggulangan perubahan iklim, yakni mitigasi, adaptasi, alih teknologi, penguatan kapasitas, dan pendanaan global.

“Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung terhadap kemaritiman. Oleh karena itu, dibutuhkan aksi adaptasi dan mitigasi di sektor tersebut,“ kata Ketua Delegasi Indonesia Rachmat Witoelar.

Perspektif tersebut selaras dengan konsentrasi kebijakan pemerintah saat ini, yakni pengembangan sektor kemaritiman. Sejumlah skenario pun disiapkan untuk menekan penyebab dan dampak perubahan iklim di sektor tersebut. Satu di antaranya menjaga kelestarian terumbu karang dari ancaman mobilisasi dan pembangunan infrastruktur.

Sektor kemaritiman menjadi salah satu indikator dan dampak iklim yang berubah. Itu ditandai dengan suhu permukaan laut yang terus meningkat akibat pemanasan global. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) merilis suhu permukaan laut saat ini mencapai 0,45 derajat celsius. Suhu tersebut merupakan yang terpanas dalam 53 tahun terakhir.

“Berdasarkan data BMKG, ada 24 pulau di Indonesia yang hilang akibat kenaikan suhu dan permukaan air laut.Pulau Jawa bahkan juga terancam tenggelam akibat rob,“ ungkap Rachmat yang juga Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI).

Suhu permukaan laut yang terus memanas juga mengakibatkan abnormalitas curah hujan, banjir, dan kekeringan ekstrem di berbagai wilayah di dunia. Badai seperti topan Hagupit yang melanda Filipina baru-baru ini juga berpotensi meningkat dan lebih parah.
“Indonesia perlu membuat road map (peta jalan) dan rencana aksi tentang pengamatan laut dan pengasaman,“ ujar Agus Supangat, juru runding Indonesia.

Indonesia juga membidik pemanfaatan sumber daya kelautan sebagai sumber energi terbarukan. Arus laut antarpulau seperti di Selat Sunda, Selat Bali, dan Selat Karimata berpotensi dikembangkan sebagai energi pembangkit listrik.

Pemetaan potensi dan proyek percontohan pembangkit listrik tenaga arus dan gelombang laut itu sudah dilakukan di sejumlah daerah. Namun, pengembangannya masih terbentur pada berbagai kendala, semisal pembiayaan dan rentang lokasi sumber dengan daerah pemasaran yang terlampau jauh.

“Pemetaan sudah dan dianggap layak. Persoalannya, kajian tidak cukup hanya menyangkut supply and demand, tapi juga marketing hingga komponen pembiayaan,“ jelas Ketua Komite Nasional Indonesia World Energy Council Hardiv Harris Situmeang, yang juga juru runding Indonesia. (AR/I-1) Media Indonesia, 23/12/2014 halaman 23