Google Adsense

Prospek Pasar Tahun 2015 belum Begitu Cerah

Kamis, 08 Januari 2015

Sejumlah peluang yang tetap tumbuh, antara lain pada 2015 pemerintah akan fokus ke infrastruktur sehingga potensi perkembangan pasar properti akan baik. LESUNYA pasar properti sepanjang 2014 akibat penurunan penjualan hingga 70 persen diperkirakan masih terus berlanjut hingga 2015. Kondisi pasar properti diperkirakan baru akan membaik pada pertengahan 2015 hingga 2016 nanti seiring dengan dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Menurut pengamat properti dari Indonesia Property watch Ali Tranghanda, munculnya peraturan pengetatan uang muka (loan to value/ LTV) per September 2013 secara langsung memberikan dampak kepada sektor properti. Dengan adanya peraturan tersebut, besarnya bantuan pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) dari bank diatur menjadi maksimal 70 persen dari harga rumah bagi debitur yang mengajukan KPR pertama kalinya, 60 persen bagi KPR kedua debitur, serta 50 persen untuk bantuan pembiayaan ketiga.

“Para pengembang menghindari peraturan tersebut dengan membangun tipe rumah yang kurang dari 70 meter persegi dengan cicilan bertahap dari 48-120 kali. Para pengembang di 2014 membidik pangsa pasar kelas menengah dengan tipe rumah kecil,“ jelas Ali di Jakarta, pekan lalu.

Namun, Ali yang juga merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch memaparkan sejumlah peluang yang tetap tumbuh, antara lain pada 2015 pemerintah akan fokus ke infrastruktur sehingga potensi perkembangan pasar properti ke depan membaik dan investor asing masuk seiring dengan MEA 2015.

“Rupiah yang tertekan tidak selamanya buruk, bidang ekspor akan naik bersamaan dengan maraknya arus asing di kawasan industri,” kata dia.

Ia mengingatkan pro perti komersial di kawasan dengan basis ekonomi industri masih memiliki pasar yang besar. Ali melihat pasar properti di 2015 diperkirakan masih akan melambat. Menurutnya, secara umum, di wilayah-wilayah sekitar kawasan industri terjadi peningkatan permintaan, terutama untuk kalangan ekspatriat yang bekerja di sana. Itu, misalnya, terjadi di wilayah Cikarang dengan harga ratarata tertinggi tanah sekitar Rp3 juta per meter persegi dan harga rata-rata terendah sekitar Rp1,4 juta per meter persegi.
“Berdasarkan data riset dari kami, setiap kenaikan 1 persen suku bunga akan menurunkan pangsa pasar KPR sebesar 4 persen-5 persen,“ kata dia.

Ia juga memprediksi pasar properti akan bergerak ke arah timur dengan pengembangan paling pesat di wilayah Cikarang, Karawang, Malang, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan. (Dro/ Ant/E-3) Media Indonesia, 16/12/2014, halaman 18