Google Adsense

Nusantara Rentan Tsunami

Jumat, 23 Januari 2015

TSUNAMI yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004 seakan mengingatkan bahwa kepulauan di Nusantara ini sangat rentan dilanda gempa yang berpotensi menimbulkan gulungan ombak raksasa. Hal itu dikemukakan oleh pakar seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro kepada Media Indonesia, kemarin.

Sejak 1991 sampai 2009, menurut Sri Widiyantoro, terjadi 30 kali gempa merusak dan 14 kali tsunami yang merusak.
Pada 12 Desember 1991 tsunami Flores menelan korban 2.000 jiwa lebih, tsunami Jawa Timur pada 1994, tsunami Biak 1996, tsunami Sulawesi 1998, tsunami Maluku Utara pada 2000, tsunami Aceh 2004, Nias 2005, Jawa Barat pada 2006, dan Bengkulu pada 2007.

“Rata-rata hampir setahun sekali tsunami menghajar Indonesia. Hasil penelitian paleotsunami menunjukkan 600 tahun silam tsunami besar melanda Aceh dan Thailand.Indonesia memang rawan tsunami, mulai pesisir barat Sumatra hingga ujung timur Papua. Bukan hanya di megacrush (lempeng Bengkulu) Sumatra yang harus diwaspadai, bagian selatan seperti Selat Sunda bahkan sampai timur hingga Flores dan Halmahera harus juga diwaspadai,“ kata Sri.

Kepulauan Indonesia dilalui jalur pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Lempeng Indo-Australia bergerak ke utara dan menyusup ke dalam lempeng Eurasia. Adapun lempeng Pasifik bergerak ke barat.

“Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempa besar dengan kedalaman dangkal, berpotensi menimbulkan tsunami. Ini baru prediksi, tetapi berbekal prediksi kita mengantisipasinya,“ ujar Dekan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB tersebut.

Belajar dari pengalaman tsunami Aceh yang menelan korban jiwa ratusan ribu serta kerugian harta yang tidak sedikit, lanjut Sri, pemerintah perlu membudayakan mitigasi secara kontinu. “Selang waktu antara gempa dan tsunami bisa digunakan untuk memberikan peringatan dini kepada penduduk. Kita sudah berhasil mengembangkan sistem peringatan dini itu,“ ungkap Sri. (BU/X-4) Media Indonesia, 26/12/2014 halaman 4