Google Adsense

Limbah Rumah Sakit Berbuah Pupuk

Selasa, 28 Oktober 2014

Di RSUD Wonosari, Gunung Kidul, limbah domestik yang berupa tinja dimanfaatkan menjadi pupuk dan biogas. BERADA di kawasan karst yang dikenal sulit mendapatkan air bersih, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, sadar akan pentingnya pengolahan limbah. Membuang limbah langsung tanpa pengolahan bisa berarti mencelakai diri sendiri karena terbatasnya pasokan air bersih.

Maka RSUD Wonosari pun membuat tiga jenis pengolahan limbah di RSUD Wonosari, mulai pengolahan limbah domestik (tinja), pengolahan air menjadi air minum, dan pengolahan air limbah rumah sakit. Kepada Media Indonesia, Kamis (16/10), Sanitarian RSUD Wonosari, Priyatno Budiharto, menjelaskan dua dari sistem pengolahan limbah itu merupakan bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Riset Pemerintah Jerman. Sementara itu, pengolahan limbah terakhir dibuat rumah sakit.

“Tinja yang ada di rumah sakit ini diolah dengan alat bantuan dari Jerman menjadi pupuk dan biogas,” kata Priyatno, Kamis (16/10). Prosesnya, tinja yang ada di septic tank disedot dan diolah melalui dua tabung reaktor sebelum menjadi pupuk dan biogas.

Priyatno pun menunjukkan beberapa tabung tempat pengolahan. Pada tabung pertama, dilakukan homogenisasi dan pemanasan terhadap tinja yang telah disedot. Hasil proses itu sebagian menjadi gas, sedangkan sebagian yang lain yang berbentuk endapan dikirim ke tabung kedua. Hasil homogenisasi yang masih berbentuk padat kemudian dialirkan ke reaktor kedua yang di dalamnya terdapat bakteri. Bakteri di dalam reaktor akan memakan dan mengurai tinja menjadi pupuk. Sekali pengolahan, alat tersebut bisa mengolah 40 liter tinja. Prosesnya berjalan otomatis setiap tigaempat hari. Begitu selesai diproses dan menjadi gas, otomatis mesin akan kembali menyedot tinja yang ada.

“Kami sudah memanfaatkan alat itu,“ tambah Priyatno. Pupuk yang dihasilkan digunakan untuk pemupukan tanaman di lingkungan rumah sakit, sedangkan biogas yang seharusnya dihasilkan dari proses tersebut hingga sekarang belum keluar. Sayangnya, sudah empat tahun diujikan, hingga sekarang, proses pengolahan tinja yang dilakukan belum dapat mengeluarkan gas.

Hingga sekarang, pihaknya belum tahu alasan proses pengolahan tinja yang dilakukan tidak kunjung menghasilkan gas. Priyatno menduga kemungkinan belum munculnya biogas disebabkan kandungan air yang terlalu banyak saat mesin menyedot tinja yang ada di septic tank. “Namun, kami belum bisa memastikannya karena kami tidak bisa mengeceknya,“ kata dia.Air siap minum Selain pengolahan tinja, RSUD Wonosari juga mendapat bantuan dari Jerman satu unit pengolahan air siap minum. Air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan air sumur yang biasa digunakan di RSUD Wonosari diproses dengan alat bantuan dari Jerman tersebut sehingga air bisa siap minum.

Sebelum siap diminum, air dari PDAM dan air sumur masuk dalam dua tahapan penyaringan yaitu penyaringan pasir dan penyaringan keramik. “Hasilnya yang keluar ada lah air yang siap minum dan tidak perlu direbus lagi. Dari uji E coli di laboratorium kecil kami, hasilnya 0,” terang Priyatno. Ia menceritakan sebenarnya di antara dua proses tersebut ada proses penyinaran ultraviolet. Namun, proses tersebut tidak dilakukan karena dianggap boros energi sehingga langsung menuju filter keramik.

Tanpa penyinaran ultraviolet, proses penyaringan dengan keramik yang dilakukan sudah mampu membunuh bakteri. Selain dua pengolahan limbah dan air bersih, RSUD Wonosari memiliki instalasi pengolahan air limbah (ipal) rumah sakit. Di ipal ini limbah yang dihasilkan rumah sakit diolah agar tidak berbahaya ketika dibuang ke lingkungan.

Proses pengolahan air limbah dimulai dengan menyalurkan air ke dalam bak penampung. Setelah itu, air limbah dialirkan ke tempat pembuangan melalui beberapa proses penjernihan air, yaitu penyaringan kasar, homogenisasi ekualisasi, aerasi, kolagulasi, hingga disinfeksi sebelum air disalurkan ke saluran air.

Diakui Aris Suryanto, Pejabat Penanggung Jawab Informasi Dokumentasi RSUD Wonosari, dua kontainer bantuan dari Jerman tersebut sangat membantu rumah sakit.Keberadaan pengolahan limbah tinja dan pengolahan air bersih, dikatakan dia, dapat mendukung pelayanan rumah sakit.

Dengan alat tersebut, pihak rumah sakit tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menguras septic tank secara rutin. Keuntungan lainnya, rumah sakit mendapatkan pupuk gratis untuk menyuburkan tanaman di lingkungan rumah sakit dari hasil pengolahan limbah tinja yang dilakukan.

Sementara itu, pengolahan air bersih siap minum yang baru diserahterimakan pada Agustus tahun ini belum digunakan. Saat ini, pihaknya sedang menunggu penyelesaian proses hibah yang sedang berlangsung.

Jika proses hibah selesai, ia meyakinkan alat tersebut akan segera dioperasikan karena akan sangat bermanfaat. Air minum yang dihasilkan dari proses tersebut akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air di instalasi gizi dan semua bangsal. Dengan demikian, pasien dan keluarga pasien tidak perlu membawa air bersih saat menunggui anggota keluarga yang dirawat di RSUD Wonosari.

“Kami rencananya juga akan mengembangkan pengolahan air limbah yang ada agar lebih bisa ditingkatkan penggunaannya,“ kata Aris. Hasil air limbah yang telah diolah tidak hanya dibuang ke saluran pembuangan, tetapi diharapkan bisa digunakan untuk menyirami tanaman. Dengan demikian, penggunaan air bersih dari PDAM ataupun sumur bisa dihemat. (M-4) Media Indonesia, 25/10/2014, Halaman : 22