Google Adsense

Pertamina Sasar Mandiri Energi

Senin, 27 Oktober 2014

Penurunan produksi minyak di lapangan expired rata-rata 19% atau setara dengan 250 ribu barel per hari. PT Pertamina (persero) menyasar peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) demi kemandirian dan swasembada energi nasional.Berbagai langkah yang mengintegrasikan optimalisasi sumur migas yang ada (existing), ekspansi produksi ke luar negeri hingga mengembangkan sumber energi baru terbarukan (EBT) menjadi upaya berkelanjutan untuk mengurangi impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).

“Pertamina siap berada di garis depan untuk swasembada energi,“ kata Pelaksana Tugas Direktur Utama Pertamina Muhamad Husen saat berkunjung ke Kantor Media Group, Jakarta, kemarin. Karena itu, lanjutnya, Pertamina terus mengebor wilayah kerja existing, khususnya implementasi skema perluasan dan peningkatan produksi minyak (enhanced and improved oil recovery).

“Kami menargetkan produksi migas dari eks pansi internasional 600 ribu barel setara minyak per hari (beopd).Itu bisa membantu target produksi 2,2 juta boepd pada 2025,“ tutur Husen.Tambahan itu diharapkan dari aset di Aljazair dan Irak yang diproyeksikan menghasilkan 425 ribu beopd, plus produksi dari Blok Cepu, Jawa Timur, sekitar 165 ribu bph pada akhir 2015.

Husen yang juga menjabat direktur hulu Pertamina meyakini upaya itu bisa membantu pencapaian lifting minyak APBN di kisaran 900 ribu barel per hari (bph). “Namun, tambahan produksi akan percuma bila tidak ada pengembangan (upgrading) dan penambahan kilang minyak yang bisa menambah efisiensi,“ ujarnya. Saat ini kapasitas pengolahan di enam kilang minyak Pertamina yang hanya 820 ribu bph di bawah kebutuhan BBM nasional 1,5 juta bph.

“Upgrading kilang bisa meningkatkan kapasitas 1,5 juta1,6 juta bph untuk memenuhi kebutuhan energi serta mengurangi biaya impor sekitar US$100 juta (Rp1,206 triliun)US$120 juta (sekitar 1,81 triliun) per hari.“

Menurutnya, upaya itu bisa direalisasikan dalam lima tahun asalkan pemerintah memberi keringanan pajak dan payung hukum setingkat keputusan presiden. Keduanya sangat dibutuhkan untuk pembangunan kilang baru yang butuh investasi US$8 miliar-US$10 miliar ataupun pengembangan konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG).

Di sektor ini Pertamina siap membangun 150 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) per tahun dan mengembangkan pemakaian gas alam cair (LNG) supaya bisa langsung dipakai sebagai bahan bakar kendaraan. “Insentif itu untuk keekonomian, sedangkan keputusan presiden sebagai payung hukum supaya kami fokus bekerja,“ ucap Husen.Turun 250 ribu bph Lebih lanjut Husen menyatakan kesiapan Pertamina untuk mengelola blok migas yang akan habis masa kontraknya (expired). Tercatat sekitar 10 blok migas yang dikelola kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) asing berstatus expired.

“Menjelang kontrak berakhir biasanya investasi dan target produksi turun. Produksi bisa turun 17%, plus decline rate (penurunan produksi alamiah) 2%, totalnya 19%, setara 250 ribu bph,“ papar Husen. Hal itu pula yang membuat produksi minyak mentah nasional sulit memenuhi target lifting APBN. “Tidak adanya penemuan sumur minyak baru hingga saat ini akan mempersulit upaya penambahan produksi. Padahal, di saat bersamaan konsumsi BBM bakal terus naik,“ pungkas Husen.(E-4) Media Indonesia, 25/10/2014, Halaman : 14