Google Adsense

Industri Padat Karya Mainkan Peran Penting

Kamis, 16 Oktober 2014

INDUSTRI padat karya masih akan memainkan peranan penting dalam penyerapan jumlah tenaga kerja. Oleh karena itu, pemerintah akan terus mendorong pengembangan industri tersebut. Tujuan utamanya menyerap tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang masih rendah.

“Ini suatu solusi sambil tingkat pendidikan kita naik sebab tingkat pendidikan pekerja masih sekitar 40% SD (sekolah dasar),” ujar Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana melalui sambungan telepon, kemarin.

Agus menegaskan industri padat karya seperti sektor elektronik, tekstil, serta industri makanan dan minuman perlu terus dikembangkan. Indonesia tidak bisa serta-merta beralih ke industri teknologi tinggi seperti otomotif. Pasalnya, tenaga kerja yang terserap lebih sedikit karena memerlukan keterampilan khusus.

Badan Pusat Stastitik (BPS) mencatat subsektor industri makanan dan minuman menyerap 877.454 pekerja dalam perhitung an sementara 2013. Kemudian subsektor industri tekstil menyerap 427.083 pekerja.

Sementara itu, industri komputer serta barang elektronik dan optik menyerap 120.771 pekerja. Subsektor kendaraan bermotor, trailer dan semitrailer menyerap sebanyak 80.949 pekerja.

Agus mengungkapkan pengembangan industri padat karya harus ditunjang iklim ketenagakerjaan yang produktif dan kondusif yang terbebas dari tekanan sweeping saat demonstrasi. Itu lebih menjadi perhatian pelaku usaha ketimbang penaikan upah. Namun, mereka juga berharap ada kejelasan perhitungan penaikan upah.

“Kenaikan upah minimum hak buruh, tetapi pengusaha juga meminta peningkatan produktivitas. Lalu orang yang enggak mau ikut demo di-sweeping. Itu membuat perusahaan beralih ke negara lain,” tutur Agus.

Ia mengingatkan persaingan di pasar ekspor makin ketat, bahkan dengan sesama negara ASEAN. Agus mencontohkan ekspor elektronik Indonesia sudah tersalip Vietnam yang mencatatkan nilai ekspor sekitar US$40 miliar. Indonesia baru sekitar US$10 miliar .

“Ini sudah enggak main-main lagi. Jadi, menurut saya, yang harus segera diperbaiki untuk investasi demi mencipta kan lapangan kerja ialah bagaimana memperbaiki sektor ketenagaker jaan,” jelas Agus. (Wib/E-1) Media Indonesia, 15/10/2014, halaman 18