Google Adsense

Masyhur hingga ke Mancanegara

Kamis, 16 Oktober 2014

Taman Sari Royal Heritage Spa membuktikan pengaplikasian tradisi di dunia bisnis serba modern bernilai tambah dalam menghadapi persaingan global. SOLUS per aqua, atau biasa disingkat menjadi spa, merupakan jenis terapi yang berasal dari Belgia. Perawatan melalui air itu begitu populer karena dipercaya mampu memberikan manfaat bagi tubuh. Dengan mengadopsi konsep tersebut, Taman Sari Royal Heritage Spa (TSRHS) hadir pertama kali sejak 1997 silam di Yogyakarta.

TSHRS tidak sepenuhnya mengadopsi konsep spa dari luar negeri. Perintis TSRHS, DR BRA Mooryati Soedibyo menggali tradisi dari negeri sendiri untuk memberikan keunikan dari perawatan yang ditawarkannya. Kompleks pemandian Taman Sari di Yogyakarta akhirnya menjadi rujukan utama.

Berdasarkan sejarah, kompleks pemandian tersebut tidak hanya menjadi pelepas lelah raga Sultan Hamengku Buwono dan keluarganya, tetapi juga digunakan sebagai tempat meditasi raja untuk memusatkan pikiran.

Perawatan yang holistik mencakup tubuh, pikiran dan jiwa itu menggunakan elemen air di dalamnya. Dengan begitu, tradisi Jawa dan pera watan spa ala Belgia memiliki benang merah yang nyata.

“Spa tanpa unsur air itu bukan spa. Karena itu, Taman Sari tepat menjadi inspirasi karena saat zaman perang dulu, tempat itu digunakan tidak hanya untuk berendam, melainkan juga untuk menenangkan diri dan pikiran,“ ujar Business Development Senior Manager TSRHS Judit Emma kepada Media Indonesia di Jakarta, Senin (13/10).

Inspirasi tersebut kemudian diterjemahkan sebagai konsep spa yang mengusung kebiasaan perawatan tubuh keraton untuk kesehatan dan kecantikan yang disesuaikan dengan kebutuhan perempuan. Kebutuhan perempuan itu didasarkan pada fi losofi siklus kehidupan perempuan yang memiliki delapan tahap kehidupan, meliputi masa bayi, remaja, pra-nikah, menikah, hamil, melahirkan, pre-menopause dan postmenopause. Setiap tahapan kehidupan tersebut memiliki tantangan keseimbangan jasmani dan rohani berbeda sehingga perawatan yang dibutuhkan berbeda pula.

Konsep tersebut menjadi keunikan TSRHS yang tidak dimiliki oleh tempat perawatan spa lainnya. Ciri khas yang autentik tersebut menjadi basis pengembangan bisnis TSHRS. Tidak berhenti di situ, pengelolaan bisnis juga memerhatikan aspek variasi dan kualitas layanan bagi para tamu.

Keterampilan para terapis merupakan faktor penting dalam pemberian layanan.Untuk itu, setiap terapis wajib menjalani program pelatihan selama empat bulan sebelum mereka diizinkan menangani tamu secara profesional. Pelatihan itu tidak hanya berfokus pada teknik merawat tubuh, tetapi juga cara menghadapi tamu secara sopan dan profesional berdasarkan adat Jawa.

Aspek lain yang menjadi perhatian yakni ketersediaan fasilitas yang memadai. Fitur yang dibutuhkan tidak hanya harus menghadirkan unsur air, baik dalam wujud shower, bathup, whirlpool dan jacuzzi, tetapi juga menghadirkan suasana tepat yang menenangkan dari desain interior ruang.Semua dilakukan agar tamu yang datang merasakan manfaat perawatan yang berakar tradisi ini secara maksimal.

“Spa itu holistic treatment yang merupakan bagian dari tindakan preventif. Sebelum orang sakit, dia datang ke spa untuk menjaga kesehatannya. Dengan treatment yang kami berikan, orang-orang akan bisa membedakan mana spa sehat dan tidak,“ papar Judit.

Ekspansi ke luar negeri
Keseriusan pengelolaan bisnis itu berbuah manis. TSRHS kini memiliki 22 cabang di Indonesia dan 7 cabang lainnya di luar negeri. Dari 29 cabang, hanya tiga tempat yang dikelola langsung oleh DR BRA Mooryati Soedibyo, yaitu Jakarta, Yogyakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia. Sisanya merupakan pengembangan bisnis waralaba yang dirintis sejak 2000 silam. “Ketika akan membuka bisnis franchise, kami tentu harus punya pengalaman memadai tentang bisnis ini. Kami dulu yang harus belajar bagaimana me-manage-nya sebelum kami mengelola investasi dari orang lain. Jadi, kami baru me-running franchise setelah mengelola bisnis sekitar 4-5 tahun,“ tutur Judit.

Cabang waralaba TSRHS dibuka pertama kali di Awana Kijal, Malaysia. Hal itu menandakan kepercayaan investor terhadap bisnis berbasis budaya ini tinggi. Mereka melihat peluang menjanjikan dari bisnis yang berlandaskan keunikan budaya Indonesia.
“Kita berencana untuk membuka cabang lagi di Uni Emirat Arab. Di Dubai. Setelah itu akan melanjutkan ke Arab Saudi dan Kuwait. Sekarang dalam tahap negosiasiasi,“ imbuh Judit.

Penghargaan bergengsi
Pengakuan terhadap kualitas TSRHS tidak hanya datang dari investor. Sejumlah penghargaan yang diraih menjadi bukti bahwa layanan TSRHS memang ciamik. Pengakuan sebagai The Best Spa in Malaysia oleh pemerintah Malaysia merupakan salah satu penghargaan terbaru yang didapatkan TSRHS pada Maret 2014 lalu. TSRHS juga sempat menduduki daftar 50 besar tempat spa terbaik di Kanada dalam ajang SpAwards oleh Book4Time.

“Tempat kita menjadi the best service karena layanan yang diberikan benar-benar dari Indonesia. Mereka bisa merasakan keramahtamahan dari terapis kami yang mengusung Java hospitality,“ cetus Judit.

Penghargaan dari dalam negeri juga tak terhitung banyaknya. TSRHS meraih Adikarya Wisata Jakarta Tourism Award pada 2006, 2010 dan 2011.

TSRHS juga meraih penghargaan sebagai Franchise Best Seller 2010 versi Majalah Info Franchise Indonesia. Terakhir, TSRHS mendapatkan rekor Muri terkait penyelenggaraan Two Thousand Hands Therapist di Sanur, Bali, pada 9 Mei 2014 silam. Dalam acara tersebut, sebanyak seribu terapis berkumpul untuk memijat dengan gerakan yang sama selama 15 menit.

“Rekor ini mengalahkan kegiatan yang sama yang dilakukan di Thailand yang diikuti 600 orang. Dalam acara tersebut, kita memperkenalkan sembilan perawatan spa terbaik di Indonesia. Kita benar-benar mengangkat budaya Indonesia, termasuk musik tradisional Indonesia,“ sahutnya.

Rencana bisnis
Pengembangan bisnis terus dilakukan TSRHS dengan menggarap lini bisnis kedua yang dinamakan Java Princess Spa. Pembukaan lini usaha tersebut sebenarnya dimulai sejak 2004 lalu untuk memenuhi kebutuhan para investor yang terkendala luasan tempat. Hanya, Judit menyatakan bahwa pihaknya akan lebih mengintensifkan pengembangan bisnis lini kedua tersebut. (S-25) Media Indonesia, 15/10/2014, halaman 13