Google Adsense

Kesimpulan Gegabah Gunung Padang

Jumat, 17 Oktober 2014

Penelitian situs Gunung Padang mengundang polemik. Keyakinan adanya piramida dan logam mulia berakhir kontroversi. Media Indonesia bersama Metro TV menelusuri keganjilan yang mencuat. Saksikan juga tayangannya di program Realitas Metro TV malam ini pukul 23.05 WIB. TIM Katastropik Purba, ben tukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arif, telah bekerja sejak 2011 di Gunung Padang.

Mereka pun kemudian menyatakan ke publik bahwa situs Gunung Padang memendam kekayaan luar biasa, di antaranya piramida yang lebih luas dan lebih tua daripada Candi Borubudur. Bentuknya mirip piramida Machu Pichu di Peru.

Kelompok yang berubah nama menjadi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) itu juga mengungkapkan adanya logam mulia sekurang-kurangnya seberat 3 ton, lapisan pasir ayak peredam gempa, jejak teknologi pelayaran, serta batu `kujang' yang merupakan senjata tradisional Sunda.

Sayangnya, kesimpulan tim yang bekerja sejak 2011 hingga 2013 dan sepengetahuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut belum didukung bentuk fisik secara nyata. Arkeolog UI DR Ali Akbar yang terlibat dalam Tim Katastropik dan TTRM beralasan situs Gunung Padang perlu ditangani berkelanjutan.

“Selama ini penelitian terjadi kekosongan waktu. Jadi pekerjaannya belum tuntas dan tidak ada tindak lanjutnya,“ ujar Ali Akbar di lokasi penelitian Gunung Padang, Kampung Cipanggulaan, Karyamukti, Cianjur, Jawa Barat, dua pekan lalu. Akibatnya, jelas pendiri Masyarakat Arkeologi Indonesia itu, terjadi kesimpangsiuran, sebab instansi yang meneliti secara sungguh-sungguh sejak lama, sifatnya sporadis, tidak berkelanjutan, tidak mendalam, dan tidak berskala besar.

Penelitian situs Gunung Padang dimulai sejak zaman Belanda. Berawal dari arkeolog NJ Krom yang menemukan situs seluas 2.825 meter persegi pada 1914. Kemudian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional meninjau kembali pada 1979 dan Proyek Sasana Budaya Jakarta memugarnya pada 1985-1989.“Baru pada 2001, Disbudpar Jawa Barat melakukan studi teknis mengenai pemugaran,“ lanjut Ali Akbar.
Berikutnya pihak Balai Arkeologi Bandung pada 2002, 2004, dan 2005 melaksanakan rangkaian penelitian dengan survei, ekskavasi, serta analisis petrologi dan petrografi. Namun, belum pernah dilakukan uji karbon/ penangggalan karbon untuk mengetahui usia pasti situs.

“Hasilnya belum maksimal, itulah sebabnya kami katakan situs Gunung Padang harus diperlakukan khusus.Tidak hanya menggunakan metode dan teknik-teknik arkeologi, ada juga geologinya dan metode ilmu lainnya.Perlu lintas bidang ilmu demi hasil maksimal dengan waktu yang relatif singkat,“ jelasnya.

Ali Akbar mengungkapkan hasil penelitian terakhir (2011-2012) berbeda dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Dengan ekskavasi dan pengeboran, tim berhasil menampakkan dan menelusuri lapisan budaya Gunung Padang.

Terungkap pada periode 5.200-500 tahun sebelum masehi, masyarakat sudah membuat struktur bangunan punden berundak. Ia merasa target tim telah tercapai meski masih banyak yang akan diungkap atas situs Gunung Padang.Malapraktik Kesimpulan TTRM diragukan ilmuwan dan akademi terkait. “Mereka terlalu dini menyimpulkan hasil penelitian. Ada prosedur ilmiah untuk menyimpulkan temuan arkeologi, memang melelahkan dan membutuhkan waktu. Namun, itulah etika profesi yang harus dipegang kuat,“ tegas Prof Mundardjito, Guru Besar Arkeologi UI, kepada Media Indonesia dan Metro TV di Jakarta, akhir pekan lalu.

Mundardjito membandingkan dengan penemuan Candi Borobudur dan tahapan pemugarannya. Pada 1814, Sir Thomas Raffles mendapat laporan adanya bangunan kuno di bawah sebuah bukit besar di Jawa Tengah.Dia menulis temuan itu di bukunya yang sangat mendunia History of Java.Raffles hanya bertindak sebatas itu.Pemugaran terpadu baru dilakukan pada 1907-1911. Pemugaran tahap kedua pada 1973-1983 dipimpin Prof DR Soekmono, Guru Besar Arkeologi UI.

Selama 11 tahun, kenang Mundard jito yang menjadi anggota tim pemugaran Candi Borobudur, ekskavasi dilakukan hati-hati, sabar, tekun, dan tidak terburu-buru. Mereka patuh pada prinsip-prinsip penelitian dalam ilmu arkeologi.

Persiapan penelitian diawali dengan penyusunan dan pembahasan rancangan penelitian bersama dengan para ahli dan disiplin ilmu bantu arkeologi.Merumuskan tujuan penelitian yang disepakati bersama, menentukan metode dan sistem penggalian yang tidak berdampak negatif, sampai ke proses analisis menuju tahap interpretasi.

“Sayangnya, rancangan penelitian TTRM sulit saya temukan, bahkan di Pusat Arkeologi Nasional sekalipun.Jadi mengherankan kalau TTRM yang hanya mendapat izin untuk melakukan survei (bukan penggalian arkeologi) dan mengambil sampel dari situs ternyata melaksanakan penggalian,“ ungkap Mundardjito.

Menurutnya, penggalian situs Gunung Padang oleh TTRM merupakan tindakan malapraktik, sebab tidak melalui tahapan prosedur ilmiah yang menjadi etika arkeologi. Hasil dan kesimpulannya sangat diragukan. Lutfi Yondri, arkeolog prasejarah dari Balai Arkeologi Bandung, juga meragukan hasil penelitian TTRM yang kini berganti nama lagi menjadi Tim Nasional Pelestarian dan Pengelolaan Situs Gunung Padang.

Selain penelitiannya tidak mengikuti etika profesi, temuan artefak berusia ratusan tahun yang diklaim tim juga meragukan. “Tim terlalu gegabah menyimpulkan,“ terangnya. TTRM menyimpulkan temuan koin dengan teknik cetak yang mereka buat umurnya lebih dari 22.770 tahun karena berada di kedalaman 11 meter. Setelah diperbandingkan mirip dengan koin Nederlandsch Indie yang terbit pada 1945 seharga 21/2 sen.

Hal lain yang janggal, jelas Lutfi, ialah penghitungan usia tanah berdasarkan kedalaman pengeboran.Hasil pengeboran oleh Ketua Tim Ge ologi dari Tim Nasional Dani Hilman menyebutkan semakin dalam pengeboran, usia tanahnya semakin muda.“Ini janggal sebab logikanya, semakin dalam dibor, usia tanahnya semakin tua,“ ujar Lutfi Yondri lagi. Saat menjawab keraguan para ahli, Sekretaris Tim Nasional Penelitian Gunung Padang Erick Ridzky Syarief menyatakan penggalian terbukti menemukan sebuah struktur bangunan raksasa.Bangunan itu membentang dalam radius sekitar 29 hektare.

“Kita harus bangga dengan temuan ini. Nah, kita juga temukan berbagai artefak dari berbagai batuan, berbagai artefak. Namun, yang mengejutkan ialah ditemukannya sebuah koin atau amulet di lubang pengebiran 5 cm kedalaman 11-12 m. Amulet ini sedang kita kaji di laboratorium,“ imbuh Erick yang juga Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Kebencanaan kepada Metro TV. (T-1) Media Indonesia, 16/10/2014, halaman 6