Google Adsense

Penyerapan Beras Baru Capai 55 persen

Jumat, 24 Oktober 2014

Sampai sekarang, jumlah yang terserap mencapai 64 ribu ton dari target tahun 2014 sebanyak 120 ribu ton. PENYERAPAN beras oleh Bulog Subdivisi Regional (Subdivre) Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) baru mencapai sekitar 55 persen dari target yang telah ditetapkan.

Sampai sekarang, jumlah yang PENYERAPAN beras oleh Bulog Subdivisi Regional (Subdivre) Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) baru mencapai sekitar 55 persen dari target yang telah ditetapkan. Sampai sekarang, jumlah yang terserap mencapai 64 ribu ton dari target tahun 2014 sebanyak 120 ribu ton.

Namun demikian, stok untuk melayani keluarga miskin masih cukup hingga 7 bulan mendatang. Kepala Bulog Subdivre Banyumas Sugeng Rahayu menyatakan penyerapan beras tahun 2014 banyak menemui kendala. “Pada saat musim panen raya untuk MT 1 beberapa bulan silam, seharusnya menjadi momentum penyerapan besar-besaran.

Namun demikian, ternyata hasil panen milik petani kurang maksimal karena serangan hama,” kata Sugeng, kemarin. Menurut Sugeng, kendala tersebut membuat Bulog Banyumas kurang maksimal dalam menyerap pangan. “Meski demikian, kami masih akan terus melakukan penyerapan sampai akhir tahun.

Tetapi, memang ada kendala yakni jumlah panen di musim kemarau tidak terlalu banyak dan harga di pasaran lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga pembelian pemerintah (HPP),” jelasnya. Dikatakan oleh Sugeng, HPP untuk gabah kering panen Rp3.300 per kilogram (kg), sedangkan di pasaran harganya telah menembus Rp4.500 per kg.

Sehingga kalau penyerapan dengan menggu nakan standar HPP tidak akan masuk. “Tetapi, kami berusaha untuk dapat menyerap, misal nya, dengan menyerap beras bukan gabah,“ tambah Sugeng yang menambahkan stok beras nakan standar HPP tidak akan masuk. “Tetapi, kami berusaha untuk dapat menyerap, misalnya, dengan menyerap beras bukan gabah,” tambah Sugeng yang menambahkan stok beras masih mencukupi kebutuhan hingga 7 bulan mendatang.

Di bagian lain, harga gabah kering giling di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, sudah di atas Rp 5 ribu/kg. Harga ini lebih tinggi dibandingkan harga pembelian yang ditetapkan pemerintah, yakni di tingkat petani sebesar Rp3.350/kg, sedangkan di tingkat penggilingan ditetapkan sebesar Rp 4.150/ kg, serta Rp 4.200/kg di gudang Bulog.

Neri, 53, petani asal Kelurahan Simpeureum, Kecamatan Majalengka, mengaku baru melepas gabah yang dipanennya sekitar 2 minggu lalu. Harga yang disepakati Rp5 ribu per kg.

“Gabah itu sudah saya keringkan dulu, supaya bisa bertahan lama saat disimpan,” jelas Neri. Harga yang sama juga didapatkan Enco, petani di Desa Palasah, Kecamatan Kertajati. Adapun Kepala Sub Divre Bulog Cirebon Miftahul Ulum saat dimintai konfi rmasi mengungkapkan jika mereka akan memantau tingginya harga gabah yang terjadi di Kabupaten Majalengka.

“Akan kami pantau dulu,” kata Miftahul yang baru beberapa hari memimpin Bulog Cirebon.(LD/UL/N-2) Media Indonesia, 23/10/2014, Halaman : 11