Google Adsense

Jangan Panggil Saya Ibu Menteri

Rabu, 29 Oktober 2014

Posisi menteri tidak akan mengubah dirinya. Ia ingin memajukan maritim Indonesia dengan tetap sebagai dirinya sendiri. SANTAI, cuek, blak-blakan, danapa adanya menjadi kesan pertama kali bertemu dengan Susi Pudjiastuti, mantan Direktur Utama PT ASI Pudjiastuti (Susi Marine), Direktur Utama PT ASI Pudjiastuti Aviation, dan juga Direktur Utama PT ASI Pudjiastuti Flying School (Susi Flying School) yang belum lama ini mendapatkan mengisi jajaran kabinet kerja Joko widodo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

Putri sulung dari H Ahmad Karlan (alm) dan Suwuh Lasminah (alm) kelahiran 15 Januari 1965 itu tumbuh dan besar di Pangandaran. Meski besar dari keluarga berkecukupan, tidak membuat dirinya terlena. Susi tidak memiliki pendidikan tinggi, Ia hanya sekolah di SD Negeri 8 Pangandaran dan lanjut ke SMP Negeri 1 Pangandaran. Guna memperluas cakrawalanya, ia dikirim ke SMA Negeri 1 Yogyakara.Sayang, pendidikannya tidak tuntas.Saat kelas dua SMA, ia berhenti karena malas.

Keinginannya untuk mandiri dia tunjukkan dengan berupaya keras sebagai pengepul ikan. Usahanya kian membesar hingga ia memiliki pabrik pengolahan ikan sendiri. Saat membesarkan usahanya, Susi sempat kesulitan dana untuk membeli pesawat. Hingga ia bertemu bankir yang visioner dan sepaham dengan dirinya dan mau memberikan pinjaman untuk membeli pesawat Cessna Caravan buatan USA, seharga Rp20 miliar. “Bila saya tidak bertemu seorang bankir yang visioner, saya tidak akan punya pesawat dan tidak akan ada cerita lobster dari Semelu, dari Rp30 ribu menjadi Rp400 ribu seperti sekarang,“ ujarnya di Jakarta, Minggu (26/10).

Percaya diri Sejak dipercaya Presiden Jokowi sebagai menteri kelautan dan perikanan, Susi mengaku akan berupaya dan percaya diri memajukan sektor maritim Indonesia. Meski ia tidak menyangka dipilih mengisi posisi itu, bahkan mempertanyakan pemilihannya.

“Setelah Bapak Presiden, Bapak Joko Widodo, menyampaikan yang intinya bahwa beliau memercayakan hal tersebut kepada saya. Saya merasa hal itu luar biasa karena beliau berani memutuskan hal tersebut,“ jelas Susi.

“Saya cukup tahu diri bahwa di dalam dunia bisnis dan dunia penerbangan atau hal-hal lain dalam tatanan sakral business way or business life saya sedikit kontroversial karena kadang-kadang mungkin orang lebih sering panggil saya orang gila daripada appropriate brave businessman.Karena saya tidak betah di dalam kotak. Sebab, di dalam kotak itu terbatas dan sempit dan terlalu banyak hal sehingga saya tidak bisa ke kanan dan ke kiri dalam perjalanan saya,“ ujar Susi.

Susi sadar tidak semua pihak akan langsung menerima dirinya. Tapi, ia berupaya menikmati pekerjaannya.

“Jadi karena Pak jokowi sudah seberani itu untuk mempekerjakan saya yang keras kepala dan agak gila ini untuk mengambil pekerjaan yang sebesar itu, lalu kenapa saya tidak mau? Jadi saya terima pekerjaan itu,“ ujarnya.

“Sangat luar biasa bagaimana diri saya dan karakter saya dan juga kegilaan saya, tetapi orang dapat menerimanya tanpa protes atau mungkin juga karena saya protes lebih kencang dari mereka semua. Akhirnya, dunia menerima saya sebagaimana saya.“

Susi mengungkapkan kekhawatirannya bila dirinya nanti menjadi seorang menteri. “Saya khawatir kalau saya sudah jadi menteri, sudah tidak bisa lagi teriak-teriak sama menterimenteri lagi. Sekarang saya tidak bisa melakukan hal itu lagi karena cuma ada Pak Jokowi di sana. Jadi tidak ada lagi di sana yang bisa saya teriakin,“ ujarnya sambil tertawa lepas. Meski keadaan telah berubah, Susi ingin seperti dirinya apa adanya. Ia ingin tetap dipanggil sebagai dirinya sendiri. “Don't call me ibu menteri, please,“ ujar Susi Pudjiastuti sembari tertawa.(M-5) Media Indonesia, 28/10/2014, Halaman : 24