Google Adsense

Serapan Beras Merosot

Minggu, 19 Oktober 2014

Harga pembelian pemerintah yang rendah memicu naiknya harga beras. Pada Musin kemarau harga beras terus melambung. Pasokan beras di Bulog pun mengalami penyusutan. Kekeringan telah memberikan dampak terhadap penyerapan beras di Perum Bulog Divisi Regional Nusa Tenggara Timur. Kepala Bidang Pelayanan Publik, Bulog Divre NTT Alexander Malelak mengungkapkan penyerapan beras dari petani merosot tajam akibat kemarau ekstrem. Persentase penurunan penyerapan beras sampai kemarin mencapai 45,88% atau hanya 5.443 ton dari kuota selama 2014 sebanyak 10.031 ton.

“Saat ini Bulog kesulitan membeli beras dari petani karena harga beras di kalangan petani paling rendah Rp7.500 per kilogram atau lebih tinggi daripada harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.600 per kilogram,” kata Alexander, kemarin.

Penurunan penyerapan beras paling banyak terjadi di persawahan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, akibat kerusakan saluran irigasi. Serapan beras di daerah itu hanya 360 ton dari target ribuan ton.

Begitu pula di Kabupaten Belu, beras yang dibeli dari petani hanya 38 ton. “Selain banyak areal persawahan yang tidak diolah karena kekurangan air, petani juga menolak HPP yang ditetapkan pemerintah,“ imbuhnya.

Menurutnya, HPP yang ditetapkan pemerintah jauh di bawah harga pasar untuk beras kualitas yang dijual di pasar tradisional, yakni Rp8.000-Rp9.000 per kg. Kendati begitu, penyerapan beras dari Kabupaten Rote Ndao malah meningkat, yakni mencapai 761 ton dari target sekitar 200-300 ton.

Bulog Divre NTT mulai membeli beras petani sejak awal musim panen Maret 2014 di tujuh kabupaten penghasil beras terbesar, yakni Rote Ndao, Kupang, Manggarai, Ngada, Belu, Sumba Barat, Manggarai Barat, dan Sumba Timur.

Untuk memenuhi kebutuhan beras di NTT, Bulog setempat mendatangkan bahan pangan tersebut dari luar daerah sejumlah 110.557 ton, yang berasal dari Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.Pasokan tersendat Selain rendahnya pasokan, harga beras di pasar-pasar juga melonjak. Di Sukabumi, Jawa Barat, harga beras berbagai jenis melonjak. Harga beras kualitas satu yang mencapai Rp9.600 per kilogram, sedangkan harga beras termurah jenis Jampangkulon berada di level Rp8.000 per kilogram.

Misbah, 24, pegawai di PD Berkah Rizky, Pasar Pelita Sukabumi, mengatakan pasokan beras dalam beberapa bulan terakhir tersendat. Bahkan beras Jampangkulon pun sulit diperoleh sehingga ikut memengaruhi harga. “Kami mengandalkan pasokan dari beberapa daerah di Sukabumi, Cianjur dan Karawang.Namun, banyak petani gagal panen menyebabkan pasokan beras jadi seret. Rata-rata harga beras naik sekitar Rp500 per kg,“ ujarnya. Lonjakan harga beras juga terjadi di Jawa Timur. Harga beras di Pasar Wonokromo, Surabaya dalam sepelan ini naik antara Rp400-Rp500 per kg dalam sepekan ini.

Mustakim, pedagang beras di Pasar Wonokromo, menjelaskan kenaikan harga beras dipicu kekeringan di wilayah sentra beras Bojonegoro. “Lahan pertanian di sepanjang aliran Bengawan Solo yang bisa ditanami padi. Namun kemarau sekarang ini, hanya sebagian sawah di Bojonegoro yang bisa ditanami. Itu yang memicu harga naik,“ terangnya.

Harga beras IR 64 kualitas medium pada pekan sebelumnya masih seharga Rp7.400, kini naik menjadi Rp7.800 per kg. Untuk beras kualitas super yang sebelumnya antara Rp7.900-Rp8.000 kini naik menjadi Rp8.400-Rp8.500 per kg. (BB/FL/N-4) Sumber : Media Indonesia, 18/10/2014, Halaman : 9