Google Adsense

BALAI KOTA DKI 20 SPBG Statis dan Mobile Dibangun

Sabtu, 18 Oktober 2014

POLUSI Jakarta sudah sedemikian parah danmasuk salah satu yang terburuk di dunia. Pemprov DKI berusaha menekan dengan mengalihkan penggunaan bahan bakar bensin ke gas. Langkah awal penggunaan gas dimulai bus Trans-Jakarta, diikuti angkutan umum serta kendaraan dinas jajaran Pemprov DKI. Dalam mendukung upaya menjadikan udara Jakarta lebih sehat, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku BUMD Pemprov DKI menandatangani nota kesepahaman dengan PT Transportasi Jakarta untuk menambah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG), kemarin.

Jakpro akan membangun 20 SPBG yang dijadwalkan rampung pada 2015 untuk melayani kebutuhan bus TransJakarta dan kendaraan lain. “Nanti, Pemprov DKI tidak lagi menggunakan kendaraan dinas berbahan bakar bensin, tetapi BBG dengan cara menyewa mobil,“ kata Sekda DKI Saefullah seusai acara penandatanganan.

Penaikan harga bensin akan membuat harga BBG lebih murah. Saefullah mengajak ma syarakat Jakarta beralih ke BBG. Pemilik kendaraan umum akan mendapatkan converter kit dari Pemprov DKI. Di pasaran, harga converter kit mencapai Rp11 juta per unit. Subsidi dari Pemprov DKI tersebut bertujuan menyegerakan pengurangan polusi dari angkutan umum. Padatnya kendaraan dan banyaknya perokok membuat Jakarta menjadi penyumbang 686.864 ton polutan per tahun. Selama setahun, hanya 81 hari udara Jakarta cukup bersih dan kondisi tersebut sangat memengaruhi kesehatan penghuni.

Mengenai pembangunan SPBG, Dirut PT Jakpro Budi Karya Sumadi menyatakan akan membagi menjadi 10 SPBG statis dan 10 SPBG mobile. Pihaknya bersama PT Trans-Jakarta akan mencari lokasi yang tepat karena saat ini bus Trans-Jakarta menjadi pemakai utama.

Pembangunan 20 SPBG menggunakan anggaran penyertaan modal pemerintah yang tahun ini sebesar Rp300 miliar. Setiap pembangunan SPBG statis butuh Rp20 miliar dan SPBG mobile Rp8 miliar.
Lokasi yang dipastikan menjadi tempat pendirian SPBG, yakni Ancol, Pluit, dan Taman Putra-Putri. Lokasi lainnya masih dalam pencarian. Syaratnya ialah lahan dengan luas minimal 3.000 meter persegi.

Dirut BUMD Trans-Jakarta Antonius NS Kosasih menyambut baik pembangunan 20 SPBG, sebab tahun depan pihaknya menambah lagi 800 armada berbahan bakar gas.“Bertambahnya bus, maka kebutuhan gas juga meningkat.Sinergi seperti ini perlu dikembangkan,“ lanjutnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Haris Prindatno juga mengungkapkan setiap pengusaha SPBU wajib membangun SPBG sesuai dengan perjanjian terdahulu.

Sebelumnya, Ketua Hiswana Migas Eri Purnomo Hadi mengkhawatirkan pihaknya tidak akan mendapatkan keuntungan dengan membangun SPBG. Haris yakin anggota Hiswana Migas tidak akan rugi karena Basuki Tjahaja Purnama yang sebentar lagi menjabat Gubernur DKI Jakarta memberlakukan Perda No 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Banyak kendaraan akan beralih ke gas. (Ssr/Put/T-1) Media Indonesia, 17/10/2014, halaman 8