Google Adsense

Kota Transisi Terkena Bullying

Rabu, 15 Oktober 2014

Kota Bekasi diolok-olok sebagai kota yang serbakurang. Namun, pemerintah setempat menganggapnya sebagai kritik di masa transisi. DAGELAN para netizen atau pengguna media sosial yang merundung (bully) Kota Bekasi, Jawa Barat, sepekan terakhir mulai membuat pemerintah kota itu bereaksi. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menilai para netizen yang mengolok-olok Bekasi tidak memahami esensi konsep dan orientasi pembangunan.

Menurutnya, Bekasi yang 10 tahun lalu didominasi masyarakat agraria, kini menjadi pusat perdagangan dan jasa. Perubahan itu kemudian mengubah kegiatan ekonomi, sosial, dan politik masyarakat. Aktivitas sektor perdagangan dan jasa berlangsung di wilayah perkotaan.

Berbagai infrastruktur perdagangan dan jasa, ujarnya, merupakan bukti kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Kota Bekasi, sebab Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi memberikan jaminan melalui regulasi serta kepastian dan perlindungan hukum. “Mereka percaya investasi di Kota Bekasi menguntungkan,“ kata Rahmat, kemarin.

Ia mengakui Kota Bekasi saat ini memang berada pada fase transisi, yaitu dari daerah pertanian menuju kota jasa dan perdagangan.
Meski demikian, tegasnya, Bekasi sudah siap menjadi kota metropolitan, sebab dari segi jumlah penduduk maupun pembangunan infrastruktur sudah memenuhi syarat. Saat ini penduduk Kota Bekasi tercatat 2,6 juta jiwa dan tinggal di wilayah 21 ribu ha. “Sekitar 60% masyarakatnya kelas menengah ke atas,“ tuturnya.

Potensi jumlah penduduk tersebut, kata Rahmat, terus diupayakan agar dapat diberdayakan untuk pendapatan asli daerah (PAD). Itulah sebabnya, Pemkot Bekasi sengaja memperbanyak pembangunan permukiman dalam bentuk perumahan dan apartemen, hotel, pertokoan, dan mal.

“Kalau sarana dan prasarana di dalam Kota Bekasi mantap, setidaknya warga Bekasi tidak harus keluar saat akhir pekan. Dengan demikian, perputaran ekonomi tetap di dalam kota,“ jelasnya.Terkepung kemacetan Rahmat juga tidak memungkiri kota yang dipimpinnya masih terkepung kemacetan lalu lintas.Namun, ia terus berupaya mengurai 49 titik kemacetan yang masih menghantui wilayah itu.

Perisakan atau bullying yang dilontarkan para netizen tidak hanya soal Bekasi yang bukan termasuk kota metropolitan, karena lalu lintas di wilayah itu macet dan banyak ditemui jalan rusak, sehingga akses menuju dan dari Bekasi harus ditempuh dalam waktu lama. Bekasi juga mendpat kritik karena suhunya yang teramat panas.

Bahkan, Bekasi, oleh para netizen, digambarkan berada di planet lain yang lebih dekat dengan matahari jika dibandingkan dengan bumi. Tidak hanya itu, kota itu diolok-olok sebagai kota butuh perhatian, warganya kampungan, kota tidak terkenal di Indonesia, hingga kota yang tidak terdapat di peta dunia.

“Kalau soal panas, semua kota juga panas,“ ujar Rahmat menanggapi kritik tersebut. Namun, ia mengakui saat ini ruang terbuka hijau di Bekasi baru mencapai 13%.

Meski demikian, ia menganggap dagelan dalam bentuk kritik maupun olok-olok itu merupakan bagian dari evaluasi terhadap Pemerintah Kota Bekasi. Hal tersebut bisa dilawan dengan menunjukan kinerja.

Namun, ia membantah tudingan pembangunan tidak disertai konsep memadai, sebab pembangunan apa pun, termasuk apartemen, toko, dan rumah, harus disesuaikan dengan tata ruang yang telah dimiliki Pemkot Bekasi.

Sementara itu, pakar perkotaan Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan sebagai daerah penyagga Ibu Kota, lompatan Bekasi dari area bekas pertanian menjadi kota terlalu cepat. Bekasi menjadi perkotaan baru, tapi struktur kotanya masih ikut kota lama. (J-3) Media Indonesia, 14/10/2014, hal : 9