Google Adsense

Musim Paceklik, Pasokan Beras Turun

Jumat, 17 Oktober 2014

Perum Bulog mulai kesulitan melakukan pengadaan beras karena musim kemarau tidak ada daerah yang panen beras. MUSIM kemaraudan kekeringanmemengaruhi produksi beras di sejumlah daerah. Gudang-gudang Bulog pun mulai kekurangan pasokan beras.

Perum Bulog Kantor Subdivisi Regional Malang, Jawa Timur, semakin kesulitan melakukan pengadaan beras karena tidak ada panen selama musim kemarau. Kepala Bulog Subdivre Malang, Langgeng Wisnu Adinugroho menjelaskan pasokan beras selama pengadaan Agustus terus berkurang. Penyebabnya, mitra kerja Bulog kesulitan membeli hasil panen petani.Bahkan mitra kerja Bulog pun harus mencari pasokan beras hingga Kabupaten Lamongan.

“Di Malang sudah tidak ada panen. Mitra kerja juga mencari sampai ke Lamongan, tapi sebagian besar sudah panen raya,“ ujar Langgeng, kemarin.

Pengadaan beras pada September dan Oktober sangat minim, hanya 15 ton per bulan.Padahal pada Agustus rata-rata pengadaan mencapai 150 ton sampai 200 ton. Bulog Malang hanya mampu memenuhi pengadaan terkini sekitar 45.202 ton dari target hingga akhir 2014 yang mencapai 70 ribu ton.

“Seharusnya pemenuhan target pengadaan Januari sampai Mei sudah mencapai 70%.Kondisi sekarang turun drastis karena dampak kekeringan berbeda dengan tahun lalu.“ Musim paceklik menyebabkan volume pasokan beras yang masuk ke gudang Perum Bulog Subdivre Wilayah V Kedu, Jawa Tengah, menyusut tajam.

Kepala Perum Bulog Subdivre Wilayah V Kedu, Fansuri Perbatasari menyebutkan volume pasokan beras pada Agustus masih berkisar 200-300 ton per hari. Adapun untuk Oktober, volume beras yang masuk ke gudang Bulog hanya berkisar 15-30 ton per hari. “Volume pasokan beras menyusut drastis.Malah sempat beberapa kali nihil. Ini terjadi sejak pertengah an September. Kemungkinan masih akan berkurang sampai akhir 2014,“ kata Fansuri.

Harga beras pun menjadi tinggi rata-rata di atas Rp7.000 per kg. Akibatnya, Bulog makin kesulitan membeli beras karena harga pembelian pemerintah terhadap beras petani hanya Rp6.600 per kg.Alih profesi Dampak kemarau dan kekeringan, banyak petani yang mulai beralih menanam palawija. Para petani di Kecamatan Kawalu, Manonjaya, Cineam, Cikalong Jamanis, dan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, beralih profesi dari petani cabai menjadi petani palawija.

Akibat kekeringan, sekitar 1.000 hektare tanaman cabai gagal panen. “Saya sekarang menanam ubi kayu, jamur dan jahe untuk menutupi kerugian tanaman cabai yang telah mengering. Modal yang sudah saya keluarkan per hektare mencapai Rp90 juta,“ ungkap Cucu Suhendi, petani di Kawalu.

Dia bersama sejumlah petani mengaku kesulitan mendapatkan modal untuk menanam cabai. “Apalagi sekarang pemerintah membuka impor cabai.Kini petani cabai hanya bisa menjual dari tingkat petani Rp15 ribu per kg, sedangkan di pasaran menjadi Rp60 ribu per kg,“ kata Cucu.

Sama halnya dengan yang lain, petani di Lamongan, Jawa Timur, kini memilih menanam kacang hijau selama musim paceklik. Dalam sekali musim, petani bisa memanem dua kali.Sentra kacang hijau di Desa Cungkup, Kecamatan Pucuk, Lamongan. Hingga saat ini realisasi produksi kacang hijau sudah mencapai 3.539 ton atau 57,93% dari target yang ditentukan. (Tim/N-4) Media Indonesia, 16/10/2014, halaman 11