Google Adsense

Menyelisik JeJak Kampung Ambon

Jumat, 26 Desember 2014

Puluhan lapak cepat saji narkoba di Kampung Ambon dipaksa gulung tikar sejak gembong-gembongnya ditangkap. Warga setempat pun menyambut baik perubahan itu. Nama Kampung Ambon yang identik dengan kekelaman, mereka ubah menjadi Kompleks Permata.
BANDAR besar dan lapak pen jualan narkoba di Kampung Ambon telah dibumihanguskan. Namun, tidak ada yang bisa menjamin bahwa jejaknya telah hilang 100 persen. Bahkan, pihak kepolisian mulai mewaspadai wilayah luar di sekitar Kampung Ambon.

Dulu, siapa pun yang mendengar Kampung Ambon dipastikan akan bergidik ngeri, kecuali mereka yang mencari kesenangan sesaat. Bagaimana tidak, Kampung Ambon yang terdiri atas RT 001-RT 007 di RW 07 Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, itu sempat tenar sebagai wilayah one stop shopping narkoba. Konsumen tidak hanya membeli untuk dibawa pergi, tapi juga bisa langsung menikmati paket cepat saji narkoba yang disuguhkan layaknya tengah berada di sebuah kafe.

Peredaran narkoba yang terbilang masif itu sempat mendapat pembiaran dari warga terhitung sejak tahun 2000 ketika narkoba mulai menyambangi wilayah yang mulai dihuni mayoritas warga suku Ambon pada 1973.

Perubahan wajah Kampung Ambon menjadi permukiman bertitel red zone dimotori oleh pendatang-pendatang dari berbagai wilayah yang melihat ada kesempatan untuk mengembangkan bisnis narkoba di wilayah yang dulunya sepi penduduk. Warga yang semula memiliki penghasilan pas-pasan pun mulai tergoda untuk `menjaga' keberadaan lapak-lapak narkoba lantaran mendapat uang tutup mulut sebagai kompensasi. Tak sedikit pula yang ikut bekerja dalam bisnis haram tersebut, entah menjadi pengedar, penimbang paket narkoba (kala itu yang marak dijual ialah jenis sabu), pembersih bong, hingga juru parkir.

Gelimangan rupiah yang terus mengalir ke kantong warga itulah yang membuat eksistensi peredaran narkoba di dalamnya terus berlangsung sporadis.Gembong tertangkap Tak ada yang abadi. Suatu ketika di 2009, tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat mulai bergerak masuk ke wilayah Kampung Ambon. Salah satu gembong narkoba, Michael Manuputi, tertangkap. Warga yang semula menutup diri dan kurang bersosialisasi pun akhirnya mulai membuka diri. Terlebih mereka yang mengaku minoritas lantaran mendambakan kehidupan yang tenang, tetapi apa daya terimpit dunia hitam.

Semangat perubahan warga semakin menjadi ketika terjadi lagi penggerebekan secara kontinu dari 2012 hingga 2013. Sebanyak 33 lapak penyedia narkoba cepat saji dibongkar habis oleh petugas. Belum lagi dengan keberhasilan polisi menangkap gembong besar yang merajai bisnis haram tersebut, Morison Emanuel Yunus, di wilayah Cileungsi, Jawa Barat. Ratusan orang yang terlibat dengan berbagai peran pun turut digiring ke Kantor Polres Jakarta Barat dan kemudian 45 orang di antaranya dikenai proses hukum.

Gencarnya pembersihan bisnis narkoba di Kampung Ambon menjadi titik balik bagi masyarakat. Selain lebih proaktif dalam menjaga lingkungan, warga yang dulunya sempat menjadi pecandu juga tak ragu mengajukan diri untuk didetoksifikasi oleh BNN yang mendirikan satu pos pelayanan kesehatan di tengah wilayah Kompleks Permata. Aura lingkungan hunian warga yang semula suram menjadi lebih berwarna dengan ramainya aktivitas warga yang tak sungkan lagi bersosialisasi.Mencari celah Perubahan positif itu nyatanya belum sepenuhnya menghapus jejak pihakpihak yang sebelumnya terlibat dalam bisnis narkoba di Kampung Ambon.Berdasarkan laporan warga dan penangkapan sekitar 4-5 kasus narkoba, ditemukan suatu indikasi bahwa pengedar yang dulu bergerak aktif di wilayah itu mulai merambah ke wilayah luar. Bahkan, ada pula yang beredar di luar area Jakarta Barat.

“Ternyata setelah penggerebekan dan pembinaan intensif yang kami lakukan di Kampung Ambon, para pemain yang tersisa diam-diam mulai mencari celah untuk beraksi di wilayah sekitar. Hal itu terdeteksi dari penangkapan beberapa pelaku kasus narkoba dalam waktu dekat ini,“ jelas Kepala Satuan Narkoba Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Gembong Yudha kepada Media Indonesia.
Mayoritas tersangka yang ditangkap berperan sebagai kaki tangan.

“Skalanya (pengedar) memang masih kecil, belum bisa dibilang bandar besar.Kebanyakan yang menjadi otak atau pengendali ialah mantan pegawai atau MI/IMMANUEL ANTONIUS pengedar dari lapak-lapak narkoba di Kampung Ambon. Namun, jika tidak diberantas, tentu akan bertambah besar.Bagaimanapun peredaran narkoba itu cepat sekali,“ jelas Gembong.

Oleh sebab itu, pihaknya sudah memetakan area terdekat dari wilayah Kampung Ambon yang diduga mulai terkena dampak pascapenertiban Kampung Ambon.Memetakan Sejauh ini, lanjut Gembong, yang sudah terdeteksi ialah wilayah Pedongkelan, sekitar pinggiran Kali Apuran, beberapa RT di luar Kompleks Permata tapi masih masuk ke RW 07, serta kelurahan terdekat yakni Kelurahan Kapuk. Satuan Narkoba Polres Jakbar beserta jajaran di kepolisian sektor terkait sudah mulai bergegas melakukan patroli.
Beruntung warga yang di wilayahnya mulai terdeteksi peredaran narkoba tidak tinggal diam. Mereka terbilang proaktif melapor kepada pihak kepolisian, salah satunya melalui agenda Rembuk Bareng Polisi (RBP) yang rutin diadakan di Kampung Ambon.
“Sudah kami petakan wilayah mana saja yang sudah terkena dampak dan mulai rawan. Segera kami tindak dan lakukan patroli, jangan sampai wilayah yang dulunya `hijau' menjadi `kuning' dan lambat laun malah menjadi `red zone'.Warga juga sudah mengadu. Mereka tidak ingin wilayahnya menjadi Kampung Ambon jilid kedua,“ ucapnya.

Adanya jejak-jejak pengedar dari Kampung Ambon yang diam-diam mulai bergerak ke wilayah lain pun menimbulkan pertanyaan. Bagaimana bisa mereka lolos dari pemantauan? Dalam menanggapi itu, Gembong menganologikan pergerakan narkoba seperti teori balon.Misalnya, satu sisi ditekan, sisi lain akan menggelembung. Media Indonesia, 12/12/2014, halaman 22