Google Adsense

Warga Proaktif Menjaga Wilayah

Sabtu, 27 Desember 2014

ADA pepatah menyebutkan lebih mudah mendapatkan daripada mempertahankan. Begitu pula dalam menjaga wilayah Kompleks Permata agar tidak kembali lagi menjadi wilayah yang sebelumnya tenar dengan nama Kampung Ambon itu. Dibutuhkan sinergi antara pemangku kepentingan seperti BNN, kepolisian, dan Pemerintah Kota Jakarta Barat dengan warga sekitar agar bisnis narkoba tidak kembali marak.

Setelah berhasil membongkar puluhan lapak yang menjual paket cepat saji narkoba dan menangkap gembong-gembong narkoba yang menjadi bandar beserta para kaki tangannya, Polres Metro Jakarta Barat rutin melakukan patroli setiap harinya di Kompleks Permata. Tidak hanya itu, pendekatan persuasif pun secara periodik terus digencarkan melalui pembinaan, rangkaian pelatihan dan penyuluhan, tentu saja bersama Badan Narkotika Nasional (BNN). Agar aspirasi warga tak ada yang terlewat satu pun, pihak kepolisian beberapa kali melakukan door to door, sebagai wadah mendengar pendapat warga secara mikro.Sementara untuk wadah yang yang lebih luas, diadakan Rembuk Bareng Polisi (RBP) dalam dua bulan terakhir.

“Kalau kumpul-kumpul bersama warga, sering kami lakukan agar tidak ada jarak. Nah dua bulan terakhir, pihak kepolisian menggandeng stakeholder lain (yang termasuk tiga pilar) mengadakan RBP untuk mendengarkan keluhan, aspirasi, atau keinginan warga. Karena kami yakin kalau hanya polisi yang terus proaktif jelas saja program pemberantasan narkoba tidak akan berhasil, harus ada feedback dari warga,“ ucap Kepala Satuan Narkoba Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Gembong Yudha kepada Media Indonesia.

Menurut Gembong, dialog in teraktif harus intens dilakukan dengan warga. Sebab, dari informasi warga lah pihak kepolisian bisa mengukur serta mengetahui situasi sesungguhnya di Kompleks Permata dari waktu ke waktu. Melalui dialog bersama pula, segala persoalan atau kendala yang dihadapi warga dapat segera dibicarakan untuk kemudia dicari jalan keluarnya.Tidak hanya yang menyangkut persoalan ekonomi warga, namun juga menyangkut fasilitas pendukung di lingkungan Kompleks Permata. Untuk meningkatkan pengawasan di wilayah tersebut, dipasang perangkat pemantau closed circuit television (CCTV) di 54 titik yang tersebar di Kompleks Permata yang terdiri dari RT 01 hingga RT 07 di RW 07, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Pemasangan CCTV yang pemantauannya dipusatkan di pos polisi di dalam kawasan tersebut merupakan usul dari warga yang mengutarakan keresahan terhadap adanya indikasi titiktitik rawan yang kerap menjadi tempat berkumpul orang-orang asing.

“Selain pemasangan CCTV, warga juga minta perbaikan lampu penerangan jalan umum (PJU) yang tidak berfungsi maksimal. Sekarang setelah diadukan ke petugas berwenang di Pemkot Jakarta Barat, seluruh lampu PJU sudah diganti dengan lampu LED yang lebih terang. Sehingga tidak ada lagi titik gelap yang menjadi area rawan kejahatan,“ terangnya. Sosialisasi Adapun Ketua RW 07, Kelurahan Kedaung Kaliangke Yeni Ritiau Napitupulu mengatakan warga sudah lebih proaktif untuk menjaga wilayahnya agar tidak kembali menjadi sarang narkoba.Selain rutin mengikuti pelatihan, penyuluhan atau pertemuan yang diadakan sejumlah stakeholder, warga pun kerap melakukan aktivitas bersama yang menjadi ajang sosialisasi.

Misalnya, pertandingan basket untuk pemuda, arisan ibu-ibu, perkumpulan doa di gereja (ada dua gereja yang berdiri di tengah wilayah Kompleks Permata) serta rapat di tingkat RT dan RW. Sebab, menurut perempuan berdarah Batak ini, mengguritanya bisnis narkoba di Kompleks Permata merupakan dampak dari pembiaran warga yang kurang bersosialisasi antara satu dengan yang lain. “Dulu kami memang saling berkumpul, tapi kebanyakan seolah cuek dengan kondisi di wilayahnya.Mungkin memang kurang intens komunikasinya. Nah sekarang ini warga terus meningkatkan interaksi antara sesama agar saling lebih peduli dengan kondisi yang sedang dialami,“ tandasnya.(Tes/J-4) Media Indonesia, 12/12/2014, halaman 23