Google Adsense

Sistem PLTA Pompa bakal Diperbanyak

Senin, 15 Desember 2014

Pompa untuk mengalirkan air dan menggerakkan turbin. Harganya memang terbilang mahal, sekitar Rp20 miliar. Pembangunan waduk atau bendungan secara masif untuk pertanian berefek bagi penyediaan listrik. Metodenya berupa bendungan dengan sistem pumped storage. Itu untuk menyiasati pemakaian persediaan air waduk yang hanya dipakai pada musim kemarau.

Hal tersebut didasarkan hasil inspeksi Wapres Jusuf Kalla ke Waduk Kedung Ombo, Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (5/12). Ia baru tahu bahwa pintu air waduk ke saluran irigasi ditutup pada saat banyak hujan, sebab petani menggunakan sistem tadah hujan.

Artinya, waduk cuma berfungsi menampung air untuk persediaan di kala kemarau. Akibatnya, turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tak bisa difungsikan saat musim hujan. “Solusinya sistem pompa.PLTA enggak beroperasi karena musim hujan. Pakai pipa (pumped) storage, 12 bulan bisa (PLTA berfungsi),“ ucapnya, di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (6/12).

JK menjelaskan sistem pompa tersebut memerlukan dua waduk yang berbeda ketinggian. Pompa untuk mengalir-kan air dan menggerakkan turbin. Harganya memang terbilang mahal, sekitar Rp20 miliar. Namun, keuntungannya masih besar bila dibandingkan dengan modal awal tersebut.

Pasalnya, krisis listrik, terutama di Jawa, sudah di depan mata. Karena itu, pembangunan pembangkit listrik yang mampu menyediakan setidaknya 35 ribu megawatt perlu diperbanyak. Jika tidak, dalam waktu 3-4 tahun lagi Jawa bakal sering mengalami pemadaman bergilir seperti yang sudah terjadi di Sumatra dan pulau lainnya.

“Ada dua kemungkinan, pemadaman atau subsidi diesel. Pedagang minyak sih senang. Negara menderita,” cetusnya.
Ditambahkannya, pembangkit listrik saat ini terlalu banyak mengandalkan batu bara. Jika kebutuhan listrik makin darurat, penggunaan energi fosil tersebut bakal berdampak pada lingkungan.

Kombinasi sumber energi pembangkit listrik pun mesti dimaksimalkan, misalnya dari energi panas bumi atau geotermal. “Listrik harus mix energy,” kata dia.

Soal bendungan itu, JK juga menyoroti pentingnya penataan lingkungan hidup untuk sinergi dengan pembangunan waduk yang tengah digencarkan. “Ini intinya pembangunan besar-besaran. Supaya mudahlah. Developer untung, PLN untung, rakyat untung,” ujarnya.

Usulan JK itu terungkap saat ia mendengarkan presentasi Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengenai perkembangan pembangunan sejumlah pembangkit listrik dan bendungan yang ada di bawah PT Pembangkit Jawa dan Bali (PJB), yakni PLTA Karangkates yang bertenaga 2x50 Mw, PLTA Kesamben 2x18,5 Mw, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) Lodoyo-2 1x45 Mw.

Menurut Nur, ide Wapres soal sistem pompa itu bukan mustahil diwujudkan di semua bendungan. (Kim/N-1) Media Indonesia, 08/12/2014, halaman 9