Google Adsense

Nelayan Hadapi Musim Paceklik

Senin, 22 Desember 2014

Gelombang laut tinggi dan cuaca ekstrem menyebabkan ribuan nelayan tradisional berhenti melaut. GELOMBANG laut tinggi yang disebabkan cuaca eks tremmenyebabkan para nelayan mengalami paceklik. Para nelayan Indramayu, Jawa Barat, diprediksi mengalami masa paceklik karena tidak bisa melaut selama dua bulan.

Ketua Kelompok Keselamatan Pelayaran Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Indramayu, Kementerian Perhubungan, Koko Sudeswara menjelaskan pihaknya telah mengeluarkan surat imbauan kepada para nelayan tradisional sejak 7 Desember. “Isinya imbauan agar nelayan tidak melaut terlebih dahulu,“ kata Koko di Indramayu, kemarin.

Saat ini di lautan sedang bertiup angin musim baratan dengan kecepatan 10-20 knot/ jam. Adapun angin kencang bertiup di sore hari. “Angin musim baratan yang terjadi di Indramayu baru awal dan diprediksi angin tersebut akan terjadi hingga Februari mendatang. Nelayan tradisional dengan membawa kapal di bawah 10 gross ton sebaiknya tidak melaut,“ imbau Koko.

Sekretaris KUD Sri Mina Sari Glayem, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, Dedi Aryanto membenarkan bahwa hanya sekitar 50 persen nelayan di wilayahnya yang melaut. “Saat ini lelang ikan per harinya di bawah 10 ton. Padahal dalam kondisi normal lelang ikan bisa di atas 20 ton/hari,“ ujarnya.

Gelombang laut tinggi juga terjadi di Kabupaten Sukabumi. Sebagian nelayan tidak bisa melaut karena gelombang laut tinggi ditambah cuaca buruk.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi Abdul Kodir menjelaskan jumlah nelayan di pesisir pantai selatan Sukabumi sekitar 12 ribu orang. Mereka ialah nelayan yang menangkap ikan dengan cara tradisional.“Saat ini sebagian besar nelayan tidak melaut karena mereka menggunakan kapal kecil yang rentan dihantam ombak,“ ujarnya.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi Ujang Supriatin membenarkan gelombang laut tinggi menyebabkan nelayan paceklik hingga Januari 2015.Cuaca ekstrem Ancaman gelombang laut tinggi di atas 2 meter juga mengancam perairan selatan Bali. Kabid Data dan Informasi BMKG Denpasar Nyoman Gede Wiryajaya telah mengeluarkan surat edaran kepada para nelayan soal peringatan cuaca ekstrem yang berdampak terjadinya gelombang tinggi di atas 2 meter hingga tiga hari ke depan.

Namun, kecepatan angin diperkirakan masih normal atau di bawah 25 knot (40 km/jam). Hasil prediksi sebelumnya, memasuki awal Desember seluruh Bali sudah memasuki musim hujan.“Hingga akhir November, masih ada lima zona dari 15 zona yang belum terkena hujan,“ ujar Wiryajaya.

Gelombang laut tinggi juga terjadi di perairan Flores-Lembata, Nusa Tenggara Timur. Puluhan nelayan tidak melaut dan memilih memperbaiki pukat dan badan perahu untuk persiapan kembali melaut apabila cuaca membaik.

Banyaknya nelayan tidak melaut berpengaruh pada penghasilan sehari-hari. Para nelayan mulai berutang pada rentenir. Najamudin, nelayan asal Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan, Lembata, mengungkapkan banyak nelayan yang sudah berutang ke rentenir. “Untuk makan sehari-hari kita terpaksa berutang ke rentenir, dan setiap hari kami harus membayar utang itu,“ ujarnya.

Untuk menyelamatkan periuk nasi, para istri nelayan ikut mencari uang dengan berjualan ikan kering di pasar.“Kelangkaan ikan menyebabkan harga ikan kering lebih mahal.“ (RS/PT/BB/N-4) Media Indonesia, 11/12/2014, halaman 11