Google Adsense

RI Ajak Taiwan Investasi Infrastruktur

Rabu, 03 Desember 2014

Dua kekurangan Indonesia di mata pengusaha Taiwan: infrastruktur dan birokrasi perizinan. Gebrakan Presiden Joko Widodo yang menjanjikan kemudahan berinvestasi di Indonesia me narik minat pengusaha Taiwan.Untuk merespons hal tersebut, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei kian intensif menemui para investor Taiwan.

Menurut Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei Arief Fadillah, saat ini ada dua perusahaan akan membuka pabrik pengolahan karet di Indonesia. Ketertarikan dua perusahaan itu berdasarkan ketersediaan karet di Indonesia, selain juga karena potensinya pasarnya yang besar.

“Mereka kini sedang mencari lahan,“ kata Arief kepada sejumlah pimpinan media yang berkunjung ke Taiwan, akhir pekan lalu. Namun, di balik ketertarikan itu, investor Taiwan menunjuk infrastruk tur dasar, semisal listrik, masih menghambat investasi di Indonesia. Hal itu diakui Wakil Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei Harsono Aris Yuwono.

Selama dua tahun bertugas di Taiwan, Harsono sering berkeliling Taiwan untuk bertemu dan mendapat masukan tentang kekurangan Indonesia sebagai negara tujuan investasi. “Mereka mengatakan dua kekurangan Indonesia, yakni infrastruktur dan birokrasi perizinan,“ kata Harsono kepada Media Indonesia.

Perkara infrastruktur itulah yang menyebabkan investor Taiwan lebih menyasar Vietnam ketimbang Indonesia.Bila infrastruktur dibenahi, bukan tidak mungkin investasi Taiwan di Indonesia bakal melampaui Vietnam.

Pada 2013, investasi Taiwan di Vietnam mencapai US$27,25 miliar atau 34% dari keseluruhan investasi di Asia Tenggara.Indonesia berada di urutan kedua sebagai negara tujuan investasi Taiwan dengan nilai US$15,36 atau 19% dari total investasi di Asia Tenggara. Sebagian besar investasi Taiwan di bidang manufaktur.

Apa yang terjadi dengan pengusaha Taiwan, lanjut Harsono, menunjukkan calon investor mau berinvestasi bila infrastruktur dan birokrasi sudah beres. Ubah paradigma Terkait masalah infrastruktur, menurut Harsono, harus ada perubahan paradigma berpikir. “Kita harus ubah paradigma. Bila selama ini kita mengundang investor berinvestasi dengan menjanjikan perbaikan infrastruktur, kini kita undang mereka berinvestasi pengadaan infrastruktur.Taiwan sendiri punya pengalaman membangun infrastruktur,“ kata dia.

Arief pun membenarkan sejumlah perusahaan Taiwan punya kompetensi di bidang infrastruktur. “Kami sudah beberapa kali berbicara dengan pengusaha agar mereka investasi di bidang infrastruktur.“Dalam kesempatan berbeda, Kepala Eksekutif Biro Perdagangan Luar Negeri Kementerian Ekonomi Taiwan Paul Wang mengatakan pihaknya dua tahun lalu telah merampungkan studi kelayakan berinvestasi dan dituangkan dalam Kesepakatan Kerja Sama Ekonomi (Economic Cooperation Agreement/ECA) Taiwan-Indonesia.

Wang berharap kedua negara mempromosikan studi kelayakan itu. “Dengan demikian, Taiwan bisa meningkatkan imvestasinya, termasuk di bidang infrastruktur,“ katanya di Taipei. (E-2) Media Indonesia, 01/12/2014, halaman 17